Panin Sekuritas menyebut, penguatan saham BBCA ada kaitannya dengan kenaikan BI Rate.
Seiring dengan adanya kenaikan tingkat suku bunga BI pada 9 Juni 2026 sebesar 25 bps menjadi di level 5,5%,
dikutip Rabu (10/6/2026).
Kenaikan suku bunga acuan berpotensi memberikan dorongan lebih besar terhadap kinerja BBCA dibanding dengan bank-bank sebaya, sebut riset Analis Bloomberg Intelligence Sarah Jane Mahmud dan Alison Hor.
“PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berpotensi memperoleh peningkatan laba yang lebih besar dibanding bank-bank sejenis. Keunggulan BBCA terletak pada basis dana murah (low–cost–deposits) yang sangat besar, mencapai 81% dari total Dana Pihak Ketiga, lebih tinggi dibanding bank-bank sejenis yang berada di kisaran 67–70%,” jelas mereka.
Hal ini menempatkan BBCA di posisi yang lebih baik untuk mengelola tekanan kenaikan biaya pendanaan (funding cost) sekaligus mendukung pemulihan Net Interest Margin (NIM) setelah turun 10 basis poin menjadi 5,7% pada tahun lalu.
Kenaikan suku bunga terbaru ini, setelah sebelumnya BI juga menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada 20 Mei, diestimasikan dapat mendorong Net Interest Margin BBCA melampaui batas atas panduan manajemen di rentang 5,4–5,6%, serta melampaui ekspektasi konsensus yang memperkirakan NIM relatif datar pada tahun ini.
“Sebagai gambaran, setiap kenaikan 10 basis poin pada margin berpotensi mendukung pertumbuhan laba pada kisaran high single digit (mencapai 7–9%), lebih tinggi dibanding proyeksi pasar saat ini yang memprediksi pertumbuhan laba sekitar 5%,” terang Sarah dan Alison dengan analisisnya.
Konsensus Bloomberg
Sementara itu, konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memperlihatkan sikap bullish terhadap saham BBCA. Dari 37 analis yang terlibat dalam pembentukan konsensus, 35 di antaranya (94,6%) menyematkan rekomendasi beli (buy).
Target harga 12 bulan ke depan ada di Rp8.826/saham. Dengan demikian, saham BBCA masih memiliki potensi kenaikan atau return potential mencapai 56,9%.
Salah satu analis yang memasang sikap bullish adalah Ferry Wong dari Citi yang memasang target Rp9.800/saham. Target paling optimistis berasal dari Erwin Wijaya dari Verdhana Sekuritas yang mencapai Rp10.100/saham.
(fad/aji)































