"Sehingga sejak kami memasuki negara ini, untuk renewable transit ini, kami berharap kebijakan ini dapat berlangsung setidaknya selama 5 hingga 10 tahun, sehingga kami dapat menyelesaikan pekerjaan kami di sini," ujar dia.
"Dan juga, saya percaya akan ada kebijakan tambahan untuk mendukung perusahaan asing mengembangkan proyek lokal, dan kami juga ingin menjadi perusahaan Indonesia yang terintegrasi secara lokal," imbuh dia.
Kementerian Keuangan dalam kesempatan yang sama menyebut penyedia solusi energi cerdas (smart energy) yang terkemuka di dunia asal China, CHINT Group, tengah menjajaki kerja sama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT) RI buat kerja sama guna membangun menjadi desa industri.
Tak hanya itu, Staf Khusus (Stafsus) Menteri Keuangan Bidang Industri dan Ekonomi Lingkungan Michael Goutama mengatakan perusahan tersebut pun sedang menjajaki untuk berencana melakukan investasi di daerah terkait energi terbarukan (renewable energy).
CHINT Group telah berdiskusi dengan pemerintah Indonesia selama hampir dua tahun. Oleh karena itu, Kemenkeu RI mengundang perwakilan perusahaan tersebut dan hari ini, Selasa, adalah kesempatan pertamanya.
"Jadi bukan tiba-tiba datang, tapi kami sangat senang ya, walaupun banyak berita-berita yang kurang positif, tapi beliau tetap datang, datangnya cuma satu hari, malam kembali," kata Michael.
"Dan membuat komitmen yang konkret, nanti malam kedatangan MoU (memorandum of understanding/nota kesepahaman), perjanjian sebenarnya untuk langsung action (aksi), timnya sudah dibawa ke sini, 9 orang dibawa untuk langsung membuat action plan (rencana aksi)-nya, jadi bukan hanya MoU biasa," imbuh dia.
Dalam pertemuan di kantor Kemenkeu RI tersebut tampak perwakilan pemerintah Indonesia yaitu
Stafsus Menteri Keuangan Bidang Industri dan Ekonomi Lingkungan Michael Goutama. Sementara itu, ada Founder sekaligus Chairman CHINT Group Nan Cunhui serta Chief Executive Officer (CEO) CHINT Solar Lu Chuan.
(ain)






























