Logo Bloomberg Technoz

“Pertanyaannya adalah, bisakah government spending ini akan terus setinggi ini ke depan? Karena growth-nya itu 35% spending dari government. Sementara tax revenue-nya, itu kalau kita lihat, dia tumbuh di sekitar 18%, sementara spending-nya 34%,” kata Chatib.

Sementara itu, terdapat kekhawatiran perlambatan setoran pajak pada kuartal III dan kuartal IV. Hal ini memungkinkan pemerintah untuk mengambil langkah dengan memperlambat belanja pemerintah.

“Mau nggak mau, itu spending-nya juga akan slowdown. Kalau nggak, budget deficit-nya akan lebih dari 3%. Inilah yang menimbulkan  anxiety dari orang, dari investor,” sebut Chatib.

Tekanan dari Global 

Chatib menyebut tekanan ekonomi saat ini terjadi imbas gejolak global yang dimulai dengan perang yang terjadi antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Hal ini membuat efek domino bagi perekonomian global.

Menurutnya kekuatan Amerika Serikat dan Israel jauh mengungguli Iran, oleh karenanya dalam kondisi ini Iran memakai strategi yang menyebabkan beban belanja perang Amerika Serikat dan Israel menjadi lebih besar.

“Jadi bukan karena, adu siapa yang lebih kuat, tetapi biaya untuk melanjutkan perangnya itu jauh lebih mahal,” kata Chatib.

Jika hal ini terjadi, maka harga minyak akan jadi sangat mahal dan hal ini dihindari oleh pemerintah Amerika Serikat. Apalagi saat ini inflasi di Amerika Serikat sudah mencapai 3,8% dengan harga bensin per galon sebesar US$4,5 dolar.

Terlebih Amerika Serikat masih menghadapi interim election pada bulan November, sehingga kebijakan-kebijakan tidak populis berpotensi mengurangi elektabilitas partai Republik.

Sehingga, Chatib menyebut bahwa ekilibrium yang diharapkan adalah permintaan Amerika Serikat kepada Israel untuk tak lagi menyerang Iran,  

“Bukan karena dia mengira, tapi dia punya kepentingan politik di Amerika,” kata Chatib.

(ell)

No more pages