Kerusakan pada fasilitas ekspor dan kendala serius pada kapal di Teluk Persia terus membatasi pembelian minyak dan gas dari kawasan tersebut.
Total impor minyak mentah China anjlok 29% menjadi 33,1 juta ton, terendah sejak Februari 2018, sementara impor gas tetap stabil di 10,1 juta ton.
Kilang minyak mengurangi produksi bahan bakar daripada berebut sumber minyak mentah alternatif, sebuah tanda menurunnya permintaan jangka panjang.
Ekspor produk turun 24% pada Mei menjadi 3,37 juta ton, meskipun angka tersebut sedikit lebih tinggi daripada April setelah China mengizinkan beberapa pengiriman untuk mengurangi kekurangan di negara-negara tetangga.
Namun, pembeli gas alam cair (LNG) China beralih ke pemasok lain untuk menutupi kekurangan pengiriman dari Qatar, tertekan oleh dimulainya puncak permintaan musim panas.
Pembelian batu bara, yang bersaing dengan gas, tetap lesu, turun 7,7% menjadi 33,3 juta ton.
Cadangan bat ubara China yang melimpah telah membatasi permintaan impor yang lebih mahal, meskipun dampak bencana batu bara Shanxi terhadap produksi dapat mengubah perhitungan tersebut dalam beberapa bulan mendatang.
Selat Hormuz juga merupakan titik hambatan bagi pengiriman pupuk global. Untuk menghemat pasokan domestik, China telah merespons dengan memperketat kontrol atas ekspornya, yang turun 5,5% menjadi 2,97 juta ton.
Ekspor baja China juga menurun sebesar 2,2% menjadi 10,3 juta ton karena tekanan inflasi akibat perang telah membuat pembeli luar negeri lebih berhati-hati, menurut Mysteel.
Di antara impor komoditas yang kurang terpengaruh secara langsung oleh perang, logam tembaga naik 4,4% untuk mengimbangi dampak pemeliharaan musiman di pabrik peleburan domestik, sementara bijih tembaga turun 1,4%. Impor bijih besi turun 0,4%.
Kedelai turun 15% pada Mei, meskipun angka tersebut jauh lebih tinggi daripada April karena lebih banyak kargo AS yang melewati bea cukai bersamaan dengan pasokan Brasil setelah gencatan senjata perdagangan dengan Washington.
(bbn)































