Logo Bloomberg Technoz

"Bagaimanapun situasi dapat berubah, partai dan pemerintah kami akan sepenuhnya mendukung kebijakan serta sikap Partai dan pemerintah China untuk membela kepentingan inti berdasarkan prinsip 'Satu China' (One China)," demikian petikan laporan kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA).

Xi Jinping tiba di Pyongyang pada hari Senin dan disambut dengan upacara megah dalam kunjungan pertamanya ke negara sekutu yang terisolasi tersebut dalam tujuh tahun terakhir. Lawatan pemimpin China ini dilakukan hanya berselang beberapa minggu setelah dirinya berturut-turut menjamu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam rangkaian KTT terpisah.

Kim bersama istrinya, Ri Sol Ju, menyambut langsung kedatangan Xi dan sang istri, Peng Liyuan, sekitar tengah hari di Pyongyang. Kedua pemimpin kemudian bergerak menyusuri jalanan yang dipadati parade massa menuju Alun-Alun Kim Il Sung untuk mengikuti upacara penyambutan resmi. Prosesi tersebut dimeriahkan oleh dentuman meriam penghormatan 21 kali, barisan pengawal kehormatan, serta riuh anak-anak yang mengibarkan bendera dan balon. Kedua Ibu Negara, yang kompak mengenakan pakaian berwarna putih, juga terlihat berbincang akrab satu sama lain.

Kunjungan selama dua hari ini merupakan bagian dari upaya Beijing untuk menegaskan kembali pengaruhnya atas Pyongyang, yang belakangan kian berani memperluas persenjataan nuklirnya serta membangun kedekatan yang semakin intim dengan Moskow.

Sehari sebelum perjalanan Xi dimulai, adik perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, menegaskan bahwa program senjata atom negaranya "sama sekali tidak bisa dinegosiasikan." Ia juga menyindir bahwa "para pejabat di Amerika Serikat telah gagal bangun dari mimpi usang dan penuh ilusi mereka."

Laporan Xinhua mengenai pertemuan tersebut sama sekali tidak memuat poin tentang denuklirisasi atau penghapusan senjata nuklir di Semenanjung Korea—sebuah tujuan yang selama bertahun-tahun selalu digaungkan China secara terbuka. Narasi itu mulai hilang dari pernyataan resmi pemerintah China sejak kunjungan Kim ke Beijing pada September lalu. Hal ini memicu spekulasi kuat di kalangan pengamat bahwa China kini secara diam-diam telah menerima Korea Utara sebagai negara kekuatan nuklir secara de facto.

Dalam konferensi pers di Seoul yang digelar tepat saat pesawat Xi mendarat di Pyongyang, Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung menegaskan bahwa denuklirisasi adalah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan. Meski demikian, Lee mengakui bahwa para penentu kebijakan harus menghadapi realitas bahwa Pyongyang terus memperluas persenjataan nuklirnya, sehingga upaya untuk sekadar menghentikan pengembangannya pun kini menjadi opsi yang berharga untuk dikejar.

"China sekarang memandang kemajuan substansial menuju denuklirisasi Korea Utara sebagai hal yang tidak realistis dalam jangka waktu dekat," ujar Tong Zhao, pengamat senior di Program Kebijakan Nuklir pada Carnegie Endowment for International Peace.

"Ditambah dengan fokus utama Beijing pada kompetisi strategis dengan Washington, penilaian ulang ini telah menurunkan prioritas isu nuklir Korea Utara dalam agenda kebijakan luar negeri China."

Alih-alih menekan Kim Jong Un secara terbuka terkait isu denuklirisasi, Xi memanfaatkan pertemuan ini untuk menegaskan kembali status tradisional Beijing sebagai pelindung politik terpenting sekaligus urat nadi perekonomian bagi Pyongyang. Langkah ini dinilai strategis mengingat aliansi Korut yang semakin dalam dengan Rusia mulai memberi Pyongyang daya tawar diplomatik baru.

Dalam kunjungannya ke Pyongyang pada tahun 2024 lalu, Putin menandatangani perjanjian kemitraan komprehensif dengan Kim yang mencakup pakta pertahanan bersama. Pakta ini mewajibkan kedua belah pihak untuk memberikan bantuan militer instan di masa perang. Segera setelah itu, Korut mengirimkan pasukan militer dan amunisi untuk membantu Rusia dalam perangnya di Ukraina, yang diduga kuat sebagai imbalan demi mendapatkan akses teknologi militer serta bantuan ekonomi dari Moskow.

Menyoroti sejarah panjang persahabatan antara kedua rezim komunis tersebut, Xi menyampaikan kepada Kim bahwa bagaimanapun lanskap internasional berubah, dukungan China terhadap kepemimpinan Kim dalam memajukan sistem sosialis Korut tidak akan goyah. Xi berjanji akan selalu "melindungi kepentingan bersama dan lingkungan strategis yang menguntungkan bagi kedua belah pihak."

Stasiun televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan bahwa pada Senin malam, Xi beserta istri turut menghadiri jamuan makan malam resmi yang diadakan oleh Kim, dilanjutkan dengan menyaksikan pertunjukan budaya yang menampilkan beberapa lagu populer asal China.

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah putri remaja Kim Jong Un, Kim Ju Ae, ikut menghadiri acara tingkat tinggi tersebut. Ju Ae sebelumnya sempat mendampingi sang ayah dalam kunjungan ke Beijing tahun lalu, yang semakin memperkuat spekulasi bahwa ia tengah dipersiapkan sebagai calon penerus takhta kepemimpinan Korea Utara di masa depan.

(bbn)

No more pages