Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan pro-growth.
Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Sebelumnya, survei yang dihimpun Bloomberg terhadap 30 orang ekonom/analis menghasilkan median estimasi 5,75%.
Proyeksi ekonom terkait BI Rate terkonsentrasi di kisaran 5,5-5,75% memberi sinyal bahwa mayoritas pelaku pasar tidak lagi melihat ruang bagi BI untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat, meski pertumbuhan ekonomi terindikasi melambat.
Bahkan, dua ekonom yakni Enrico Tanuwijaya dari UOB dan Tamara Henderson dari Bloomberg Economics memperkirakan BI akan semakin agresif dengan kenaikan 50 bps menjadi 6%.
Henderson memperkirakan BI masih akan melanjutkan pengetatan kebijakan hingga bunga acuan mencapai 6% pada kuartal I tahun depan. "Kenaikan lanjutan secepat rapat Juni tetap mungkin terjadi, meski bisa dihindari jika rupiah mulai stabil atau harga minyak melunak," kata Henderson dalam catatannya.
Namun, sebagian ekonom masih memperkirakan BI akan menahan BI Rate di 5,5%, seperti Fikri C. Permana dari KB Valbury Sekuritas, Josua Pardede dari Bank Permata, Euben Paracuelles dari Nomura Singapore, Aldian Taloputra dari Standard Chartered Bank, dan Miguel Chanco dari Pantheon Macroeconomics.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Paredede, menilai skenario BI menahan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) berikutnya masih menjadi pilihan utama dengan probabilitas sekitar 80-90%. Menurutnya, peluang kenaikan lanjutan sebesar 25 bps masih terbuka, meski relatif kecil, yakni sekitar 10-20%.
(lav)



























