Dengan margin EBITDA mencapai 84% serta ekspansi kapasitas menuju 2,3–2,8 GW, pertumbuhan laba dinilai tetap solid. Henan Putihrai menyebut, penurunan harga saat ini menciptakan discounted entry point di tengah prospek pertumbuhan kapasitas dan laba yang kuat.
Sementara itu, CUAN dinilai mengalami market mispricing di tengah ekspansi agresif. Analis Sucor Sekuritas, Andreas Yordan Tarigan mengatakan bahwa penurunan harga CUAN telah menciptakan valuasi yang atraktif, sementara fundamental justru memasuki fase pertumbuhan yang kuat.
Dalam hal ini, produksi batu bara CUAN melonjak signifikan dan ditargetkan terus tumbuh hingga 16 juta ton pada 2028, didukung portofolio batu bara kalori tinggi serta efisiensi operasional. Andreas menyebut, kombinasi pertumbuhan volume, efisiensi biaya, dan ekspansi ke bisnis energi sebagai pendorong utama peningkatan profitabilitas ke depan.
Selain itu, ekspansi ke sektor energi dan mineral dinilai memperkuat prospek jangka panjang perusahaan. “Potensi dari aksi korporasi tambahan seperti konsolidasi aset belum sepenuhnya terefleksi dalam harga saham saat ini,” ujar Andreas dalam risetnya.
Secara keseluruhan, direkomendasikan buy untuk BREN dan CUAN, dengan target harga masing-masing Rp9.125 dan Rp2.030, yang mencerminkan potensi kenaikan signifikan dari level saat ini. Pelemahan harga dinilai lebih dipicu faktor teknikal dan sentimen jangka pendek, sementara fundamental tetap solid.
Dari sisi pergerakan saham, secara year to date (YTD) BREN telah turun sekitar 60,82% dari kisaran awal tahun Rp6.000–6.500/saham ke level Rp3.800/saham. Sementara itu, CUAN terkoreksi 70,09% secara year to date ke kisaran Rp700/saham.
Henan Putihrai memberikan rekomendasi buy BREN dengan target harga Rp9.125/saham. Sedang Sucor memberikan rekomendasi buy dengan target Rp2.030/saham.
(dhf)



























