Logo Bloomberg Technoz

Menurut dia, nilai tukar rupiah yang telah mendekati Rp17.950 per dolar AS menambah tekanan terhadap pasar keuangan domestik.

Selain itu, IHSG juga terbebani oleh pergerakan saham-saham konglomerasi yang dalam dua hari terakhir sempat menguat signifikan, bahkan beberapa di antaranya menyentuh batas auto reject atas (ARA). 

Sementara dari sisi teknikal, dia menilai IHSG masih berada dalam fase tren turun dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat.

"Pergerakan IHSG masih berada di fase downtrend-nya dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah yang valid," kata Herditya lewat pesan singkat pada Rabu (3/6/2026).

Senada dengan Herditya, Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana menilai tekanan terhadap IHSG berasal dari berbagai faktor yang terjadi secara bersamaan.

Dari sisi fundamental, pasar mencermati inflasi yang mulai meningkat serta pelemahan rupiah yang masih berlanjut.

Menurut Wawan, sentimen pasar juga dipengaruhi sejumlah kebijakan pemerintah yang dipersepsikan berpotensi menambah beban pajak bagi pelaku usaha berbentuk PT dan CV.

Kondisi tersebut terjadi ketika pasar masih kekurangan katalis positif yang mampu mendorong optimisme investor.

"Inflasi mulai meningkat dan nilai tukar terus melemah. Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan baru yang dirasa akan menambah beban pajak, sehingga dipersepsikan negatif oleh pasar di saat katalis positif masih terbatas," ujar Wawan.

Selain itu, pelaku pasar turut mencermati perkembangan terkait pemeriksaan yang dilakukan Kejaksaan Agung terhadap Badan Gizi Nasional (BGN).

Isu tersebut dinilai sensitif karena berkaitan dengan aspek hukum, potensi korupsi, serta tata kelola dan pertanggungjawaban Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menggunakan anggaran besar dari APBN. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan persepsi risiko investasi di dalam negeri.

Di saat yang sama, pasar juga dibayangi oleh outlook negatif yang diberikan Moody's Ratings terhadap Danantara.

Lembaga pemeringkat tersebut baru-baru ini memberikan peringkat kredit perdana Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM), yang mengikuti outlook negatif terhadap peringkat kredit Indonesia.

Wawan mengatakan kontribusi Danantara terhadap perekonomian nasional masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Menurut dia, sejumlah kebijakan yang berkaitan dengan Danantara, termasuk mekanisme ekspor melalui entitas di bawah naungannya, masih dicermati dari sisi implementasi dan dampaknya terhadap kegiatan usaha.

"Danantara hingga saat ini memang masih ditelaah sumbangsihnya bagi perekonomian secara umum," kata Wawan.

Menurut dia, dampak Danantara terhadap pasar saham memang tidak terjadi secara langsung karena lembaga tersebut bukan perusahaan terbuka. Namun, persepsi investor terhadap tata kelola BUMN dan arah kebijakan pemerintah dapat ikut terpengaruh.

Di sisi eksternal, Wawan menambahkan penguatan dolar AS juga menjadi faktor yang menekan rupiah.

Tingginya kebutuhan dolar untuk impor energi di tengah belum meredanya ketegangan geopolitik global membuat mata uang AS tetap berada dalam tren penguatan.

Meski peluang rebound teknikal masih terbuka setelah koreksi yang cukup dalam, Wawan menilai pergerakan IHSG masih berpotensi tertekan selama belum muncul katalis positif yang mampu mengubah sentimen pasar.

"Sepanjang belum ada katalis positif, IHSG bisa terus tertekan. Rebound teknikal masih mungkin terjadi, tetapi secara keseluruhan masih negatif," imbuh Wawan.

(cpa/naw)

No more pages