Sementara itu, untuk gas, hingga akhir Mei 2026 SKK Migas mencatat produksi mencapai 6.550 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan salur gas mencapai 5.207 MMSCFD. Untuk outlook 2026, produksi gas sekitar 6.787 MMSCFD dan salur gas sebesar 5.400 MMSCFD.
Untuk diketahui, pemerintah melalui Kementerian ESDM menargetkan lifting minyak nasional sebesar 610.000 BOPD pada tahun 2026.
Target tersebut telah tercantum dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan target tersebut dinilai tidak ringan mengingat kondisi produksi migas nasional yang tengah menghadapi berbagai tantangan teknis. Pemerintah dituntut tidak hanya menjaga level produksi tahun sebelumnya, tetapi juga meningkatkan lifting sekitar 5.000 BOPD.
Tantangan semakin besar setelah terjadi insiden kebocoran pipa migas pada awal tahun 2026 yang berdampak pada operasional Blok Rokan di Provinsi Riau, salah satu kontributor utama produksi minyak nasional.
"Izin Pimpinan [Komisi XII], kami laporkan bahwa kita di awal tahun ini mengalami ada sedikit musibah kecil di Sumatera, pipa kita bocor yang kehilangan potensi loss kurang lebih sekitar 2 juta barel di awal tahun," jelas Bahlil dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi XII DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Meski dihadapkan pada tantangan tersebut, Bahlil menyatakan optimistis target lifting minyak nasional tetap dapat tercapai. Salah satu strategi utama yang ditempuh adalah reaktivasi sumur-sumur tua, termasuk percepatan perizinan puluhan ribu sumur minyak masyarakat di sejumlah daerah agar dapat segera berkontribusi terhadap lifting nasional.
"Bahkan sekarang, untuk 40.000 lebih sumur masyarakat, sebagian izinnya sudah kita keluarkan seperti di Jambi dan Sumatra Selatan, sekarang di Jawa Tengah kita sedang mempercepat proses perizinannya," tuturnya.
Strategi berikutnya dilakukan melalui optimalisasi teknologi, antara lain penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) di Blok Rokan milik Pertamina dan Lapangan Banyu Urip yang dikelola Exxonmobil.
"Strategi yang ketiga adalah bagaimana proyek yang Plan of Development (POD) sudah selesai kita juga melakukan percepatan [untuk produksi]. Ini kita sudah panggil dan bicarakan dengan semua Kontraktor Kontrak Kerja Sama [KKKS]," ungkap Bahlil.
(smr/ros)































