"Kalau totalnya itu (pembangunan jaringan rel) Sumatra, itu bisa sekitar US$ 20-US$ 25 miliar dari ujung ke ujung."
Berdasarkan dokumen Rencana Kerja dan Roadmap Transformasi Korporasi 2026-2030, KAI menargetkan reaktivasi jalur mati sepanjang 726,5 km yang tersebar di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh.
Di Sumatra Barat, jalur yang akan direaktivasi meliputi ruas Naras-Sungai Limau, Kayu Tanam-Padang Panjang-Bukittinggi-Limbanang, Muarakalaban-Sawahlunto, Padangpanjang-Batubual, Batubual-Solok, hingga Solok-Muarakalaban.
Sementara itu, di Aceh dan Sumatra Utara, reaktivasi mencakup lintas Lhokseumawe-Langsa-Besitang, Banda Aceh-Sigli, serta Sigli-Bireuen-Lhokseumawe.
Selain reaktivasi, KAI juga memasukkan rencana pembangunan jalur baru sepanjang sekitar 1.110 km yang telah tercantum dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS).
Jalur baru yang direncanakan meliputi Rantau Prapat-Dumai, Duri-Pekanbaru, Pekanbaru-Rengat, Rengat-Jambi, Kertapati-Tarahan-Bakauheni, serta Lubuklinggau-Bengkulu. Pengembangan jaringan tersebut ditujukan untuk memperluas konektivitas dan memperkuat integrasi transportasi di Pulau Sumatra.
Di sektor logistik, KAI juga merencanakan pengembangan jalur angkutan batu bara Tanjung Enim Baru-Tarahan II dengan total penambahan kapasitas sepanjang 313 km.
Program tersebut mencakup pembangunan jalur pintas Tanjung Enim-Stasiun Belatung sepanjang 60 km, peningkatan kapasitas jalur eksisting Stasiun Belatung-Stasiun Tegineneng sepanjang 203 km, serta pembangunan jalur lanjutan Tegineneng-Pelabuhan Tarahan II sepanjang 50 km.
(ibn/roy)






























