Senator Demokrat asal Maryland, Chris Van Hollen, mengatakan kepada Rubio bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menunggu selama 40 tahun untuk menemukan seorang presiden AS "yang cukup bodoh dan ceroboh untuk bergabung bersamanya" dalam mengobarkan perang melawan Iran.
"Kebijakan luar negeri Trump telah berubah menjadi bencana total," tegas Van Hollen.
Rubio juga mendapat tekanan terkait respons terbaru AS terhadap memburuknya wabah Ebola di Afrika, di tengah tuduhan bahwa pembubaran Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) dan keluarnya AS dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menghambat upaya penanganan wabah tersebut.
Jeanne Shaheen dari New Hampshire, anggota Demokrat senior di komite Senat tersebut, memperlihatkan poster besar yang memuat kutipan miliarder Elon Musk — yang memimpin kebijakan pemangkasan anggaran besar-besaran pada awal pemerintahan Trump — yang mengakui bahwa "salah satu hal yang secara tidak sengaja kami hentikan untuk sementara adalah program pencegahan Ebola."
"Nah, program-program itu telah dibubarkan dan sekarang kita harus melakukan pemeriksaan Ebola di Bandara Dulles, bukan di Republik Demokratik Kongo dan Uganda yang berjarak lebih dari 7.000 mil dari sini," ujarnya, merujuk pada Republik Demokratik Kongo.
Terkait Iran, Rubio mengatakan AS memiliki peluang dalam beberapa hari ke depan untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran mengenai penghentian upaya pengembangan senjata nuklir serta pengelolaan uranium yang telah diperkaya pada tingkat tinggi.
Namun, Trump terus berganti antara menyampaikan optimisme mengenai kemajuan negosiasi dan mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran, sementara tuntutan utamanya — agar Iran memberikan konsesi terkait program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz — masih belum terpenuhi. Konflik yang dilancarkan AS dan Israel pada akhir Februari tersebut telah mengguncang pasar, mendorong kenaikan harga bahan bakar, dan semakin tidak populer di kalangan pemilih Amerika beberapa bulan menjelang pemilu sela.
Perang tersebut diperkirakan akan terus mendominasi agenda Rubio di Capitol Hill pekan ini. Setelah menghadiri sidang Senat pada Selasa pagi, ia juga mengikuti sidang di subkomite DPR AS, dan masih dijadwalkan menghadiri dua sidang lainnya pada Rabu. Seluruh rangkaian sidang itu merupakan bagian dari proses pembahasan anggaran tahunan.
Senator Demokrat dari Connecticut, Chris Murphy, mengatakan Iran saat ini menyandera ekonomi AS dan dunia melalui penutupan Selat Hormuz. Ia juga mengkritik pesan-pesan yang dinilainya membingungkan dari pemerintahan Trump terkait tujuan sebenarnya dari proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Iran pada Senin menyatakan menangguhkan pembicaraan untuk mengakhiri perang yang kini telah memasuki bulan keempat. Teheran beralasan bahwa bentrokan yang masih berlangsung antara Israel dan milisi Hizbullah di Lebanon harus dihentikan terlebih dahulu sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian yang lebih luas.
Para anggota parlemen juga menanyakan mengenai paket penjualan senjata senilai US$14 miliar untuk Taiwan yang hingga kini masih tertunda. Sebelumnya, Trump menyebut paket tersebut sebagai "alat tawar" setelah pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping. Rubio menegaskan tidak ada perubahan dalam kebijakan AS terhadap Taiwan, namun mengatakan penjualan senjata tersebut masih dalam tahap peninjauan.
(bbn)



























