Sejumlah saham menjadi pendorong penguatan IHSG pada perdagangan hari ini. Saham–saham energi, saham barang baku, dan saham infrastruktur mencatatkan kenaikan paling tinggi, dengan masing–masing menguat mencapai 1,61%, 1,31% dan 0,63%.
Kenaikan IHSG yang begitu percaya diri merupakan efek secara langsung dari melesatnya sejumlah saham big caps. Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Selasa (2/6/2026).
- Barito Renewables Energy (BREN) menyumbang 30,41 poin
- Amman Mineral Internasional (AMMN) menyumbang 18,02 poin
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyumbang 14,19 poin
- Bank Central Asia (BBCA) menyumbang 11,77 poin
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menyumbang 10,9 poin
- Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) menyumbang 8,85 poin
- Bank Mandiri (BMRI) menyumbang 7,08 poin
- Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) menyumbang 6,23 poin
- Bank Mega (MEGA) menyumbang 2,55 poin
- Chandra Asri Pacific (TPIA) menyumbang 2,39 poin
Adapun saham–saham unggulan LQ45 turut menjadi pendorong penguatan IHSG, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melonjak 8,31% dan saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) juga melesat 4,44%. Sama halnya, saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) juga lompat hingga 3,64%.
Disusul oleh penguatan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang menguat 2,07%, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melesat 1,93%, dan saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang mencetak penguatan 1,77%.
Penguatan Nilai Tukar Rupiah
Dari dalam negeri, apresiasi rupiah menjadi sentimen amat positif bagi IHSG. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah berhasil menguat dan solid di hadapan dolar Amerika Serikat.
Pada tutup perdagangan di pasar spot, US$ 1 setara dengan Rp17.838. Rupiah menguat 0,2% point–to–point.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terus menguat hingga menempati level terkuatnya mencapai Rp17.828/US$ pada penutupan perdagangan, hingga memutus rantai pelemahan lima hari berturut–turut.
Penguatan rupiah hari ini juga menjadi yang terbesar dan paling potensial di Asia, yang disusul peso Filipina yang menguat nilainya 0,08%, yuan China, dan yuan offshore juga menguat masing–masing 0,05% dan 0,04%, serta dolar Singapura yang terapresiasi 0,03%.
Rupiah dan valuta Asia nyaman di zona hijau terdorong sentimen dolar AS sedang melemah. Pada perdagangan hari ini, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan 6 mata uang utama dunia) melemah 0,06% di level 99,142, rupiah dan mata uang Asia mampu menguat di tengah kelesuan dolar AS.
Dolar AS lesu di tengah harga minyak dunia yang cukup jinak, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di rentang US$91,3 per barel dengan turun 0,92% point–to–point per Selasa, sementara jenis Brent melemah 1,12% di harga US$93,92.
Efeknya, saat rupiah menguat, beban utang luar negeri masing–masing emiten perusahaan akan terpangkas. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah.
Pada nantinya, berpotensi membuat bertambahnya nilai laba bersih perusahaan. Ketika laba emiten mencatat pertumbuhan, investor bisa berharap menikmati datangnya dividen yang memetik keuntungan dari saham.
Arah IHSG Selanjutnya
Secara teknikal, melansir Phintraco Sekuritas, IHSG berhasil berada di atas level MA–5. Penyempitan histogram negatif MACD berlanjut dengan Stochastic RSI mengarah ke area pivot.
“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dengan menguji level 6.220–6.280,” analisis Phintraco, Selasa.
IHSG menghadapi uji resistance MA–5 di level 6.195, dengan itu, Panin Sekuritas menyebut, selanjutnya IHSG harus mampu ditutup di atas level ini, sehingga terbuka peluang melanjutkan penguatan menuju MA–20 di 6.580.
“Di sisi lain, support terdekat pada angka psikologis 6.000, dan support 5.742–5.883 diharapkan mampu menopang pergerakan IHSG,” terang Panin dalam catatan terbarunya, Selasa.
(fad)


























