Logo Bloomberg Technoz

Di satu sisi, Presiden AS Donald Trump mengatakan memorandum kesepahaman dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz berpotensi tercapai dalam pekan depan. Meski demikian, ia menegaskan masih ada beberapa poin yang perlu diselesaikan sebelum kesepakatan dapat dirampungkan.

Namun, di sisi lain pertanyaan berbeda datang dari Iran. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan Teheran dan kelompok sekutunya di kawasan tengah mempertimbangkan penutupan total Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.

Terlebih lagi bagi rupiah, beban ganda datang dari dua sisi, dalam dan luar negeri yang belum sepenuhnya reda. Pasar turut menyoroti inkonsistensi kebijakan dan munculnya berbagai sinyal yang kurang memberikan kepastian terhadap arah pengelolaan ekonomi ke depan. 

Kekhawatiran ini menyeret tekanan berat terhadap nilai tukar rupiah, yang juga memberikan desakan kepada emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Khususnya kepada emiten yang memiliki utang dalam berdenominasi dolar AS. Misalnya PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), hingga emiten PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Modernland Realty Tbk (MDLN. Nilai utang perusahaan akan meningkat seiring dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Grafik Harga Saham BSDE Year to Date 2026 (Sumber: Bloomberg)

Kemudian sektor yang harus gigit jari atas pelemahan nilai tukar rupiah adalah sektor farmasi, mencermati industri yang 90% bahan bakunya masih tergantung dari impor.

Emiten–emiten yang bergerak di sektor industri farmasi di antaranya PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), dan PT Indonesia Farma/Indofarma Tbk (INAF), PT Soho Global Health Tbk (SOHO), dan PT Phapros Tbk (PEHA).

Jika mencermati pergerakan indeks sektoral, sektor properti tercatat anjlok mencapai 31,46% sepanjang 2026. Sedangkan saham-saham farmasi, atau kesehatan, melemah tajam 25,91% ytd.

Saham BSDE anjlok mencapai 30,39% YtD ke posisi Rp630/saham. Kemudian ASRI ambruk 29,45% ke posisi Rp115/saham, dan SMRA melemah 26,18% ke posisi Rp282/saham.

Begitu juga LPKR yang turun dalam mencapai 21,43% hingga menyentuh posisi Rp65/saham. Adapun PWON melemah 16,57% ke posisi terendahnya Rp282/saham. Lalu MDLN ambrol 18,03% hingga menjadi saham gocap alias Rp50/saham.

Hal senada juga dialami oleh emiten–emiten farmasi sepanjang 2026. Harga saham PYFA tersungkur 51,86% ytd hingga berada di posisi Rp230/saham. Kemudian KLBF yang amblas 38,17% ke Rp745/saham, TSPC terpangkas 15,09% ke posisi Rp2.420/saham, PEHA turun 8,67% ke posisi Rp274/saham, dan KAEF melemah 7,57% di posisi Rp470/saham.

(fad/aji)

No more pages