“Sehingga cukup memberikan tekanan terhadap biaya operasional tambang, terutama untuk kegiatan hauling dan konsumsi solar alat berat yang konsumsi BBM-nya tinggi,” kata Emil ketika dihubungi, Selasa (2/6/2026).
Dia mengungkapkan saat ini banyak perusahaan pertambangan melakukan efisiensi penggunaan BBM melalui perbaikan jalan yang digunakan untuk pengangkutan material tambang (hauling), optimasi waktu edar atau cycle time tambang.
Lalu, pengurangan waktu istirahat alat berat, melakukan pengaturan kecepatan unit, serta mengoptimalkan pergerakan alat berat dengan fleet management system (FMS) untuk menekan konsumsi BBM per ton produksi.
“Jadi ketika harga solar industri naik, otomatis porsi biaya bahan bakar terhadap total biaya penambangan juga ikut meningkat. Dampaknya paling terasa pada tambang yang memiliki hauling distance panjang, elevasi tinggi, dan utilisasi alat yang besar karena konsumsi solar menjadi sangat signifikan,” kata Emil.
Komponen Terbesar
Emil mencatat biaya bahan bakar saat ini menjadi salah satu komponen biaya terbesar untuk sektor pertambangan, bahkan bagi tambang terbuka kontribusinya mencapai 20%—40% dari total biaya operasional penambangan.
“[Besarnya] tergantung jarak hauling, kondisi jalan tambang, produktivitas alat, serta jenis alat yang digunakan,” tega dia.
Adapun, berdasarkan data salah satu penyalur bahan bakar minyak (BBM) industri PT Pertamina Patra Niaga (PPN) yakni PT Global Nararya Multitrading (GNM), harga solar industri pada awal bulan ini mengalami kenaikan sekitar Rp100/liter untuk seluruh area.
Untuk area 1 yakni Sumatra, Jawa, Bali, dan Madura, harga solar industri HSD B40 pada 1—14 Juni 2026 tercatat sebesar Rp25.850/liter atau naik Rp100 dibandingkan dengan harga 15—31 Mei 2026 sebesar Rp25.750/liter.
Untuk area 2 yakni Kalimantan, harga solar industri dibanderol sebesar Rp25.950/liter atau naik Rp100 dari harga periode sebelumnya sebesar Rp25.850/liter.
Untuk area 3 yakni Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat (NTB), harga solar industri dijual seharga Rp26.050/liter atau naik Rp100 dari harga periode sebelumnya sebesar Rp25.950/liter.
Untuk area 4 yakni Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua, harga solar industri dibanderol sebesar Rp26.200 atau naik Rp100 dari harga periode sebelumnya sebesar Rp26.100/liter.
Sebelumnya, Ketua Bidang Hubungan Industri Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Ardhi Ishak Koesen mencatat harga solar industri mengalami kenaikan usai terjadinya penutupan jalur perdagangan migas di Selat Hormuz, bahkan menembus Rp30.000/liter di wilayah Indonesia Timur.
Ardhi mengungkapkan kenaikan harga solar industri tersebut terjadi bersamaan dengan kelesuan di sektor pertambangan gegara pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Selain harga solar industri yang melonjak hingga Rp30.000/liter di wilayah Indonesia Timur, Ardhi mencatat harga solar industri di wilayah Kalimantan telah melonjak menjadi di atas Rp20.000/liter dari sebelumnya Rp15.000—Rp18.00/liter.
Gelombang PHK
Untuk itu, dia mewaspadai gabungan kondisi tersebut bakal mengakibatkan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Bahkan, di industri batu bara, pemotongan kuota produksi hingga 25% tahun ini sudah mengakibatkan sejumlah penambang merumahkan karyawannya.
“Ya sudah ada yang merumahkan karyawan dampak dari pemotongan RKAB batu bara, karena porsi yang dipotong cukup besar, 25% atau sekitar 200 juta ton batu bara,” kata Ardhi ketika dihubungi, baru-baru ini.
Harga solar di seluruh dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan meluasnya konflik di Timur Tengah. Hal ini menekan pasar yang sudah menghadapi pasokan rendah dan menambah beban bagi konsumen.
Harga solar bereaksi kuat terhadap konflik di Timur Tengah, sebagian karena Selat Hormuz merupakan jalur utama untuk pengiriman bahan bakar yang diproduksi di kilang-kilang terdekat.
Kendala pengiriman makin memperketat pasar global, di mana pasokan di Pantai Timur AS sudah rendah setelah musim dingin yang sangat dingin. Biaya pengiriman juga melonjak; Tarif pengiriman produk minyak dari Teluk Timur Tengah ke Eropa Barat Laut melonjak ke level tertinggi sejak 2024.
(azr/wdh)
























