Tanaman ini sangat penting bagi ketahanan pangan kawasan ini dan negara-negara seperti Thailand, Vietnam, dan India juga merupakan pemasok utama ke luar negeri.
Saat penanaman untuk musim tanam utama dimulai di banyak daerah, sejumlah petani terpaksa melewatkan atau menunda penanaman tanaman pangan pokok tersebut.
Tran Van Be Bay, seorang petani berusia 60 tahun di Provinsi Vinh Long, Vietnam selatan, biasanya menanam tiga kali dalam setahun. Namun, karena harga pupuk melonjak, ia berencana melewatkan satu kali tanam kali ini.
“Dengan biaya yang terus naik dan cuaca yang sangat panas, ini bukan waktu yang tepat untuk menanam tanaman baru,” katanya. “Menggunakan lebih banyak pupuk tidak hanya lebih mahal, tetapi juga merusak tanaman.”
Beras dikenal sebagai tanaman yang membutuhkan banyak pupuk, dan pompa irigasi yang digunakan untuk menggenangi sawah sering kali beroperasi menggunakan bahan bakar diesel.
Harga pupuk nitrogen di Thailand, Kamboja, dan Filipina telah melonjak sekitar 40-50% sejak perang dimulai pada Februari, menurut Institut Penelitian Beras Internasional. Meski negara-negara tersebut memiliki cadangan yang cukup pada periode Maret-Mei, kekurangan pasokan dapat segera muncul kecuali perdagangan pupuk kembali normal, kata Alisher Mirzabaev, ilmuwan senior bidang analisis kebijakan dan perubahan iklim di institut tersebut.
Setiap penurunan produksi di Asia kemungkinan akan berdampak pada pasokan global. Filipina telah memperingatkan bahwa El Niño yang kuat akan mengurangi produksi padi sawah hingga 700.000 ton atau 3,5% dari target produksi tahunan.
Namun, kenaikan harga mungkin akan tertahan di pasar internasional berkat stok beras yang melimpah, terutama di India sebagai produsen utama, serta permintaan global yang relatif lemah, kata Peter Clubb, analis pasar di International Grains Council.
(bbn)




























