Di saat Singapura dipandang sebagai tempat berlindung yang aman bagi modal global, Indonesia justru sedang menghadapi tantangan untuk mempertahankan kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian geopolitik saat ini.
Fakta bahwa rupiah melemah paling dalam dibanding banyak banyak uang siang ini, sepertinya menunjukkan adanya kerentanan yang lebih spesifik. Risiko fiskal dan pelebaran defisit yang terjadi membuat daya tarik rupiah semakin memudar di kalangan investor global, meski suku bunga acuan telah dinaikkan.
"Pelemahan rupiah disebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Kekhawatiran faktor dalam dengeri termasuk twin deficit (fiskal dan neraca transaksi berjalan), serta tingginya inflasi ke depan," sebut Harry Su, Managing Director Research, Samuel Sekuritas.
Meski berdekatan, struktur ekonomi kedua negara ini juga sangat jauh berbeda. "Singapura memiliki kerangka kebijakan nilai tukar yang sangat kredibel, pasar keuangan dalam, dan posisi sebagai pusat keuangan, sehingga dolar Singapura cenderung lebih stabil," sebut Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Sementara, Indonesia berada di tengah: punya pasar domestik besar dan komoditas, tetapi juga punya impor energi tinggi, kebutuhan dolar musiman besar, dan pasar keuangan yang sangat sensitif terhadap arus portofolio.
Rupiah berada dalam kelompok mata uang Asia yang melemah, sementara sebagian mata uang seperti ringgit, yuan, dan dolar Singapura masih mencatat kinerja lebih baik pada periode tersebut.
(dsp/aji)




























