Perlambatan IHK ini didorong oleh harga pangan olahan yang tumbuh lebih lambat dibandingkan tahun lalu, serta penurunan tajam pada tarif layanan air. Selain itu, harga energi terus menurun berkat adanya subsidi bensin yang diterapkan oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang berencana segera mengajukan anggaran tambahan ke parlemen untuk mempertahankan kebijakan tersebut.
Laporan ini menunjukkan bahwa program pemerintah berhasil meringankan biaya hidup masyarakat, di saat para pembuat kebijakan BOJ justru mengkhawatirkan potensi kenaikan harga akibat dampak perang di Iran. Serupa dengan laporan pekan lalu yang menunjukkan IHK nasional bulan April berada di level terendah dalam empat tahun, data terbaru ini dinilai dapat mempersulit Gubernur BOJ Kazuo Ueda dalam menyusun argumentasi untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan depan.
Hingga Jumat pagi, para pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 80% bagi terjadinya kenaikan suku bunga pada rapat dewan gubernur tanggal 15–16 Juni mendatang, berdasarkan data overnight index swaps.
Takaichi baru-baru ini juga meminta tambahan anggaran untuk mendanai subsidi utilitas selama musim panas, dan awal pekan ini mengatakan pendanaan tersebut tidak akan dilakukan melalui tambahan penerbitan obligasi pemerintah secara kalender. Meski demikian, pasar tetap waspada terhadap potensi ekspansi belanja fiskal. Kondisi itu turut memicu aksi jual obligasi pemerintah Jepang di tengah kenaikan imbal hasil obligasi global akibat kekhawatiran inflasi terkait perang.
Perdana Menteri Takaichi juga secara terbuka menunjukkan preferensinya terhadap kebijakan moneter yang longgar. Pekan lalu, ia meminta Ueda mempertimbangkan kebijakan bantuan harga dari pemerintah serta langkah-langkah ekonomi lainnya dalam menetapkan kebijakan moneter secara tepat.
Namun hal itu bisa menjadi tantangan di tengah meningkatnya risiko inflasi di luar dampak perang. Produsen makanan besar Jepang, Nippn Corp dan Showa Sangyo Co, pada Kamis masing-masing mengumumkan kenaikan harga sejumlah produk mulai Agustus mendatang. Langkah tersebut menandakan perusahaan semakin berani meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen, tren yang juga menjadi perhatian Ueda.
Harga sektor jasa — salah satu indikator utama inflasi berbasis permintaan — naik 1,1 persen dibandingkan tahun lalu. Harga makanan di luar pangan segar meningkat 4,1 persen, lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, harga beras turun 1 persen, jauh berbeda dibandingkan tahun lalu ketika sempat melonjak hampir 94 persen.
(bbn)































