Tercatat hanya ada penguatan 241 saham, dan sebanyak–banyaknya 447 saham terjadi pelemahan. Sisanya 133 saham stagnan.
Adapun saham perindustrian, saham konsumen non primer, dan saham properti menjadi yang melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 3,37%, 2,2% dan 2,14%.
Saham–saham big caps pemberat IHSG hingga menempati top losers.
- Astra International (ASII) mengurangi 19,04 poin
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 15,75 poin
- Bank Central Asia (BBCA) mengurangi 11,76 poin
- Bank Mandiri (BMRI) mengurangi 7,07 poin
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 4,25 poin
- Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) mengurangi 4,04 poin
- Merdeka Copper Gold (MDKA) mengurangi 3,42 poin
- Vale Indonesia (INCO) mengurangi 2,83 poin
- MNC Digital Entertainment (MSIN) mengurangi 2,82 poin
- Aneka Tambang (ANTM) mengurangi 2,07 poin
Sejumlah saham LQ45 unggulan lainnya juga menjadi pemberat laju IHSG, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang turun 5,71%, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) amblas 4,04%, dan juga saham PT XLSmart Tbk (EXCL) melemah 3,82%.
Senada dengan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) drop 3,61%, saham PT Indofood CBP Tbk (ICBP) melemah 3,17%, dengan saham PT United Tractors Tbk (UNTR) terpeleset 3,15% hingga menjadi pemberat IHSG.
Sebagian Bursa Asia justru berhasil melenggang di zona hijau. KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea), CSI 300 (China), dan SETI (Thailand), yang berhasil menguat pada tutup dagang hari ini.
Rupiah Cetak Rekor Terendah Sepanjang Sejarah
Depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang amat berat bagi IHSG. Menutup perdagangan hari ini, rupiah berada di posisi Rp17.789/US$. Mata uang kebanggaan Tanah Air melemah 0,26% pada Selasa (26/5/2026).
Rupiah tergerus hingga sempat mencapai Rp17.795/US$ yang menjadi titik terlemahnya secara intraday, hingga mencetak level All Time Low penutupan terbarunya, berdasarkan data Bloomberg.
Sejumlah tekanan masih membayangi pergerakan rupiah biarpun Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter telah mengambil langkah agresif dan preventif dengan mengerek suku bunga acuan BI Rate melampaui ekspektasi pasar menjadi 5,25%.
Persepsi investor yang berangsur–angsur memburuk terhadap fondasi domestik Indonesia, jadi katalis pemberat laju rupiah. Sebab, nilai tukar mata uang Indonesia terus melemah setelah data–data ekonomi rilis.
Kala pasar global dibayangi lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS, investor juga melihat risiko di dalam negeri turut meningkat, mulai dari pelebaran defisit transaksi berjalan, tekanan fiskal, hingga ketidakpastian arah pembiayaan pemerintah ke depan.
Kondisi ini membuat pasar obligasi Indonesia ikut kehilangan daya tariknya, dan membuat investor ingin diganjar lebih mahal dalam memegang aset berdenominasi rupiah.
Panin Sekuritas memaparkan alasan aksi jual yang masih cukup besar di pasar, utamanya, concern pelaku pasar saat ini berfokus terhadap 1) sosialisasi aturan baru DHE SDA yang penuh ketidakpastian teknis (dari sisi DSI dan company), 2) pernyataan Menko terkait penutupan gerai retail modern yang memberi tekanan pada AMRT hari ini, serta 3) outflow menjelang efektifnya indeks MSCI pada 29 Mei mendatang.
(fad)





























