“Apapun yang kita announce atau putuskan, itu tidak pernah tanpa approval dari regional promoter, artist management, maupun artisnya sendiri,” ujarnya.
Ia mengatakan pihak manajemen artis internasional biasanya sudah memiliki standar rentang harga tiket di setiap negara atau kawasan. Karena itu, harga tiket konser di Indonesia sebenarnya tidak jauh berbeda dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya.
Namun, menurut Harry, yang membuat harga tiket terasa lebih berat bagi masyarakat Indonesia adalah faktor daya beli, termasuk perbedaan GDP (Gross Domestic Product) dan upah minimum dibandingkan dengan negara tetangga.
Selain itu, ada banyak komponen yang memengaruhi harga tiket konser, mulai dari biaya artis, produksi panggung, hingga konsep pertunjukan. Untuk konser genre tertentu seperti hip-hop, kata dia, kebutuhan produksinya biasanya jauh lebih besar dan megah.
“Semua variabel itu menjadi bagian dari perhitungan. Pada akhirnya, sebagai business unit tentu ada elemen profit oriented, tapi semua keputusan tetap melalui persetujuan seluruh pihak yang terlibat, termasuk manajemen artis,” jelasnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, Harry menilai industri live music di Indonesia justru masih memiliki potensi besar. Ia menyebut pasar musik dan konser di Indonesia saat ini bernilai sekitar US$168 juta atau sekitar Rp2,8 triliun.
“Dari sisi musik dan konser, hiburan live dan live music itu pendapatannya sangat besar secara global dan sama halnya dengan Indonesia. Kita punya pasar yang potensinya sebesar US$168 juta ,” ujar Harry.
Ia menambahkan, pertumbuhan industri konser di Indonesia bahkan masih lebih tinggi dibanding rata-rata global. Menurutnya, industri hiburan live di Tanah Air tumbuh sekitar 10% secara year-on-year pada periode 2024 hingga 2026.
“Rata-rata globalnya ada di 2,5 sampai 5%. Jadi sebetulnya industri ini masih terus berkembang meski perekonomian secara umum melemah,” tuturnya.
(dec)































