Sektor digital merupakan salah satu dari lima bidang fokus dana investasi yang telah beroperasi selama lima tahun ini, yang akan mengalokasikan hingga 30% dari anggaran tahunannya untuk sektor tersebut, kata Ganis.
Meskipun “banyak perkembangan AI ini berasal dari luar Indonesia, hal itu tidak berarti kami akan mengabaikan tren tersebut,” ucap Ganis.
INA memperkirakan booming AI akan menguntungkan Indonesia seiring perusahaan-perusahaan mendirikan pusat pelatihan dan penelitian di negara ini, yang memiliki salah satu populasi termuda di Asia.
Portofolio investasi INA mencakup pusat data dengan kapasitas terencana sebesar 74 megawatt (MW) dan tingkat okupansi yang telah terisi 100%, menurut situs webnya.
Di tengah persaingan AS dan China dalam bidang AI, Ganis mengatakan INA akan mengambil pendekatan “non-blok” untuk bekerja sama dengan berbagai mitra.
AI adalah sektor dalam “dunia multipolar” di mana negara-negara akan berupaya menciptakan juara nasional atau regional, kata Ganis. Namun, perusahaan-perusahaan akan melihat Indonesia sebagai pasar di mana mereka dapat meningkatkan produktivitas dan ekspansi mereka, tambahnya.
Meskipun konflik di Timur Tengah memberikan tekanan pada negara-negara pengimpor minyak bersih seperti Indonesia, Ganis mengatakan pusat data yang ada di Indonesia beroperasi di kawasan industri dengan keamanan pasokan listrik. Meski begitu, dirinya tetap waspada terhadap potensi lonjakan harga minyak lebih lanjut.
“Saya rasa kita tidak bisa membuat pernyataan sekilas terkait dampaknya,” kata Ganis, seraya menjelaskan bahwa dana investasi tersebut harus mengevaluasi berbagai faktor, termasuk kontrak listrik di masa depan, untuk melihat dampaknya.
SWF INA, yang didirikan pada Desember 2020, baru-baru ini mengalami serangkaian perombakan kepemimpinan. Danantara, sesama penerima mandat pengelola investasi dan dana abadi, yang memiliki mandat jauh lebih besar, juga berencana untuk berinvestasi di pusat data.
INA awalnya berfokus pada investasi ekuitas swasta dengan struktur kepemilikan saham minoritas, dan sejak itu telah berkembang ke bidang kredit swasta dan real estat.
Awalnya, keputusan investasi tersebut didanai dengan kepemilikan saham pemerintah dan uang tunai, serta mengandalkan dividen saham dan bunga sebagai sumber pendapatan utamanya. Ganis memperkirakan porsi tersebut akan berkurang secara bertahap seiring dengan meningkatnya porsi pendapatan investasi.
(bbn)





























