Logo Bloomberg Technoz

Ia menilai pendekatan seperti itu jauh lebih relevan untuk menjawab tantangan generasi muda saat ini. Banyak anak muda memiliki kemampuan membangun bisnis kreatif dan berbasis teknologi, namun tidak memiliki aset yang cukup untuk memenuhi persyaratan kredit di lembaga keuangan konvensional.

Fokus pada Pembiayaan Produktif Anak Muda

Anthony menegaskan bahwa tujuan utama dari Youth Development Bank adalah membuka akses pembiayaan yang lebih merata bagi anak muda di berbagai daerah. Ia melihat selama ini akses modal masih lebih banyak dinikmati pelaku usaha di kota besar, sementara pengusaha muda di daerah sering menghadapi keterbatasan dukungan keuangan.

“Yang kita perjuangkan bukan sekadar bunga yang murah, melainkan jaminan akses pembiayaan yang nyata bagi lahirnya pengusaha pengusaha muda baru,” tegasnya.

Dalam konsep yang ditawarkan, Youth Development Bank disebut akan menerapkan bunga kompetitif sekitar 2 hingga 3 persen di atas BI Rate. Anthony menilai skema tersebut tetap sehat secara bisnis namun tetap cukup terjangkau untuk membantu pengusaha pemula mengembangkan usahanya.

Ia juga menekankan pentingnya proses kurasi dalam pemberian pembiayaan. Menurutnya, kurasi harus dilakukan secara ketat dengan melibatkan pemerintah dan asosiasi pengusaha agar dana yang disalurkan benar benar diberikan kepada bisnis yang memiliki prospek jangka panjang dan mampu menciptakan dampak ekonomi nyata.

Gagasan tersebut mendapat perhatian cukup besar dari peserta debat. Sejumlah kader HIPMI menilai ide Youth Development Bank lebih konkret dibanding narasi umum mengenai pemberdayaan anak muda yang selama ini sering disampaikan tanpa langkah implementasi yang jelas.

Banyak peserta melihat konsep tersebut dapat menjadi terobosan baru apabila diwujudkan melalui sinergi antara pemerintah, dunia perbankan, dan organisasi pengusaha. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, bank khusus pengusaha muda dinilai mampu mempercepat lahirnya entrepreneur baru di berbagai sektor usaha.

Anthony juga mengaitkan gagasan itu dengan tantangan ekonomi nasional ke depan. Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha muda produktif untuk menghadapi bonus demografi, persaingan ekonomi global, hingga percepatan digitalisasi ekonomi yang semakin kompetitif.

“Kalau akses pembiayaan hanya dinikmati kelompok tertentu, maka pengusaha baru akan sulit lahir. Padahal Indonesia membutuhkan lebih banyak entrepreneur muda untuk menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi nasional,” ujarnya.

Dukungan terhadap gagasan tersebut juga datang dari panelis debat sekaligus mantan Ketua Umum BPD HIPMI Bali periode 2000 sampai 2003, GDE Sumarjaya Linggih. Ia mengapresiasi konsep Youth Development Bank yang dinilai memiliki orientasi jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

"Saya tertarik dan mengapresiasi dengan gagasan saudara terkait program ini Youth Development Bank," ujar GDE Sumarjaya Linggih dalam sesi debat tersebut.

Debat calon Ketua Umum BPP HIPMI di Bali sendiri menjadi momentum penting bagi para kandidat untuk memaparkan arah masa depan organisasi. Selain menyampaikan visi organisasi, masing masing kandidat juga memaparkan strategi memperkuat peran pengusaha muda dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Kemunculan gagasan Youth Development Bank dalam forum tersebut sekaligus menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap isu akses modal bagi generasi muda. Di tengah tantangan ekonomi yang terus berkembang, kebutuhan akan sistem pembiayaan yang lebih inklusif dinilai semakin mendesak agar lahir lebih banyak pelaku usaha baru yang mampu menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

(tim)

No more pages