Logo Bloomberg Technoz

“Ketika pertama kali memutuskan membawa 7-Eleven ke Jepang, semua orang mengatakan itu tidak akan berhasil dan menentang ide tersebut — para eksekutif, profesor universitas, konsultan, semuanya,” kata Suzuki dalam wawancara tahun 2013. “Saya tahu mereka salah.”

Kini, grup tersebut memiliki lebih dari 85.000 gerai di seluruh dunia, sekitar seperempatnya berada di Jepang. Akar sejarah 7-Eleven sendiri bermula pada dekade 1920-an dan 1930-an ketika toko penyimpanan es di wilayah selatan AS mulai menjual telur, roti, dan susu sebelum berkembang menjadi jaringan toko serba ada bernama Tote’m. Pada 1946, namanya diubah menjadi 7-Eleven untuk mencerminkan jam operasional yang lebih panjang, yakni pukul 07.00 hingga 23.00 setiap hari.

Suzuki ditunjuk menjadi chairman dan CEO induk 7-Eleven, Ito-Yokado Co, pada 2003 dan mengganti nama perusahaan yang berbasis di Tokyo itu menjadi Seven & i pada 2005. Ia memperluas jaringan ke negara-negara seperti Indonesia dan Denmark serta meningkatkan jumlah gerai di AS menjadi hampir 10.500 pada 2015, dari sekitar 7.300 saat Southland bangkrut.

Sejak saat itu, kerajaan bisnis toko serba ada Seven & i berkembang menjadi lebih dari 18.000 gerai, termasuk melalui akuisisi Speedway dari Marathon Petroleum Corp senilai US$21 miliar pada 2021 serta jaringan SPBU Sunoco. Seven & i juga sempat menjadi target akuisisi pada 2024 setelah pemilik Circle K, Alimentation Couche-Tard Inc, mengajukan proposal pembelian tanpa diminta. Namun negosiasi tidak membuahkan hasil dan perusahaan asal Kanada itu mundur tahun lalu.

Kepergian mendadak Suzuki dari posisi chairman dan CEO pada 2016 terjadi setelah bentrokan dengan investor aktivis asal AS, Daniel Loeb. Seven & i menjadi salah satu perusahaan Jepang yang diinvestasikan oleh hedge fund milik Loeb, Third Point LLC.

Suzuki saat itu berupaya mendesak dewan direksi Seven & i untuk mencopot eksekutif muda yang sedang naik daun, Ryuichi Isaka, presiden unit inti perusahaan di Jepang, karena dianggap memiliki masalah kinerja. Dalam upayanya menggagalkan rencana tersebut, Loeb mengangkat isu “masalah kesehatan kronis” Suzuki dan menuding ia ingin menunjuk putranya, Yasuhiro Suzuki, sebagai penerus. Suzuki membantah tuduhan itu. Pada akhirnya, Isaka dipromosikan dan Suzuki mengundurkan diri sebagai CEO, meski tetap menjadi penasihat kehormatan perusahaan.

Suzuki lahir pada 1 Desember 1932 di kota Sakaki, Prefektur Nagano, wilayah pegunungan di sebelah barat Tokyo. Ayahnya, Jinshiro, merupakan pegawai negeri dan pernah menjabat sebagai wali kota, menurut autobiografi Suzuki yang diterbitkan pada 2008. Ibunya, Hisami, mengelola pertanian keluarga dan bisnis ulat sutra.

Suzuki merupakan anak kesembilan dari 10 bersaudara, dengan dua saudaranya meninggal saat masih kecil. Meski keluarganya tergolong kaya dan memiliki banyak pekerja, ibunya dikenal disiplin dan mengajarkan bahwa “siapa yang tidak bekerja, tidak akan makan,” tulis Suzuki dalam memoarnya. Anak-anak diwajibkan menyapu halaman setiap pagi sebelum sarapan dan akan dimarahi jika menunjukkan tanda-tanda malas.

Awalnya Suzuki bercita-cita menjadi politikus. Ia aktif dalam politik mahasiswa di Universitas Chuo, Tokyo, tempat ia belajar ekonomi dan lulus pada 1956. Setelah bekerja di perusahaan penerbitan, ia bergabung dengan peritel Ito-Yokado pada 1963.

Suzuki menjabat sebagai eksekutif Ito-Yokado pada 1974 ketika membuka gerai 7-Eleven di kawasan Toyosu, Tokyo. Ia mengenal 7-Eleven saat berkunjung ke AS untuk menegosiasikan kerja sama dengan Denny’s Corp. Dalam lima tahun, bisnis tersebut berkembang pesat.

Suzuki menjadi presiden Ito-Yokado pada 1992 setelah pendahulunya sekaligus pendiri perusahaan, Masatoshi Ito, mundur untuk bertanggung jawab atas dugaan pembayaran oleh pejabat perusahaan kepada tiga anggota yakuza guna menjaga ketertiban dalam rapat pemegang saham.

Pada 1999, Ito-Yokado mulai menjual produk secara daring melalui unit yang kini dikenal sebagai Seven Net Shopping. Dua tahun kemudian, Suzuki mendirikan unit jasa keuangan yang kini bernama Seven Bank Ltd, yang sebagian besar pendapatannya berasal dari biaya transaksi ATM di gerai 7-Eleven.

Dalam beberapa tahun terakhir, jaringan tersebut menarik pelanggan dengan menawarkan lebih banyak makanan segar, makan siang bento, dan produk private label. Saat ini, toko-toko tersebut dikenal sebagai “combini,” singkatan dari convenience store dalam bahasa Jepang. Pelanggan dapat membayar tagihan, mengirim paket, menarik uang tunai, sekaligus berbelanja di sana.

Bahkan saat usianya sudah lebih dari 80 tahun, Suzuki masih rutin mengunjungi gerai 7-Eleven setiap akhir pekan untuk membeli dan memeriksa barang dagangan.

“Saya sangat beruntung sebagai pebisnis, tetapi saya selalu merasa keberuntungan berpihak pada mereka yang melakukan segala hal untuk mencapai tujuan mereka,” tulis Suzuki dalam autobiografinya. “Keberuntungan tidak datang begitu saja kepada orang-orang tertentu.”

(bbn)

No more pages