Reza mengatakan, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan terkait regulasi sentralisasi ekspor komoditas strategis.
“Terutama mengenai mekanisme dan implementasinya yang sejauh ini masih memunculkan berbagai interpretasi dari sejumlah pihak,” kata Reza dalam risetnya.
Adapun pada perdagangan pekan lalu, IHSG ditutup menguat sebesar 1,10% menuju 6.162 dengan net foreign sell sebesar Rp1,07 triliun.
Rebound ini terjadi akibat adanya rumor bahwa Indonesia akan menunda implementasi penuh kebijakan ekspor batu bara dan komoditas strategis lainnya yang dikendalikan negara hingga 1 Januari 2027.
Selain itu, secara teknikal IHSG sudah berada di level support pentingnya pada 5.900 - 6.000 sehingga terjadi technical rebound.
Bursa Saham AS
Sebelumnya, harga minyak dan dolar AS melemah sementara kontrak berjangka saham AS menguat seiring meningkatnya selera risiko di tengah harapan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan aliran minyak mentah makin dekat.
Minyak Brent turun lebih dari 4% pada awal perdagangan, sementara mata uang sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia dan rand Afrika Selatan memimpin penguatan terhadap dolar AS.
Futures indeks S&P 500 naik setelah indeks acuannya ditutup mendekati rekor tertinggi pada Jumat.
Pejabat senior AS mengatakan pada Minggu bahwa AS dan Iran makin dekat mencapai kesepakatan yang akan membuka kembali Selat Hormuz, meskipun negosiasi mengenai sejumlah poin penting masih berlangsung dan persetujuan akhir dari kedua pihak kemungkinan masih memerlukan beberapa hari.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, memperingatkan bahwa rancangan kesepakatan tersebut masih berpotensi gagal karena AS menghambat beberapa klausul penting, termasuk tuntutan Teheran agar aset-asetnya dicairkan kembali.
“Momentum kenaikan tampaknya akan berlanjut,” tulis analis IG di Sydney, Tony Sycamore, dalam catatan kepada klien. Meski kesepakatan masih bisa gagal, “pasar keuangan tampaknya saat ini memilih mempercayai laporan tersebut.”
Peningkatan sentimen ini mengikuti kebuntuan selama berminggu-minggu antara AS dan Iran setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada April, dengan para pelaku pasar terus memantau dampak ekonomi dari konflik tersebut.
Sentimen konsumen AS turun ke rekor terendah pada Mei, sementara ekspektasi inflasi jangka panjang memburuk signifikan.
(cpa/naw)





























