Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, memperingatkan bahwa rancangan kesepakatan tersebut masih berpotensi gagal karena AS menghambat beberapa klausul penting, termasuk tuntutan Teheran agar aset-asetnya dicairkan kembali.
“Momentum kenaikan tampaknya akan berlanjut,” tulis analis IG di Sydney, Tony Sycamore, dalam catatan kepada klien. Meski kesepakatan masih bisa gagal, “pasar keuangan tampaknya saat ini memilih mempercayai laporan tersebut.”
Peningkatan sentimen ini mengikuti kebuntuan selama berminggu-minggu antara AS dan Iran setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada April, dengan para pelaku pasar terus memantau dampak ekonomi dari konflik tersebut.
Sentimen konsumen AS turun ke rekor terendah pada Mei, sementara ekspektasi inflasi jangka panjang memburuk signifikan.
Data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS dan data inflasi di Eropa akan menjadi perhatian pekan ini setelah imbal hasil obligasi naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun akibat kekhawatiran tekanan harga akan tetap tinggi dan memaksa bank sentral menaikkan suku bunga.
Pelaku pasar kini sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga Federal Reserve hingga akhir tahun, menegaskan ekspektasi bahwa Kevin Warsh perlu bergerak cepat untuk menekan inflasi.
Para strateg memperkirakan imbal hasil obligasi global akan tetap tinggi bahkan jika kesepakatan AS-Iran meredakan tekanan inflasi akibat minyak.
Investor juga menghadapi kekhawatiran bahwa beban utang publik yang sudah besar akan terus meningkat, sementara kebutuhan pendanaan untuk ledakan investasi AI menambah tekanan pada pasar pendanaan global.
Penurunan harga minyak pada Senin terjadi ketika muncul tanda-tanda kapal mulai kembali melintasi selat tersebut setelah sebuah supertanker yang mengangkut minyak mentah Irak ke China melintasi garis blokade AS menuju Laut Arab.
Sebanyak 33 kapal, termasuk tanker minyak, kapal kontainer, dan kapal komersial lainnya, melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam setelah memperoleh izin dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), lapor kantor berita semi-resmi Iranian Students’ News Agency pada Minggu, mengutip pernyataan IRGC.
“Meskipun pembukaan kembali Hormuz akan positif bagi arus minyak global, sifat negosiasi yang masih dinamis dan perbedaan yang belum terselesaikan menunjukkan volatilitas harga minyak kemungkinan masih akan bertahan untuk beberapa waktu,” tulis para strateg ANZ Bank termasuk David Croy dalam catatan kepada klien.
(bbn)



























