Logo Bloomberg Technoz

Rekam Jejak

Berdasarkan laporan tahunan Vale Indonesia, Mahony menempuh seluruh pendidikan tingginya di University of New South Wales atau UNSW, Australia. 

Dia menyelesaikan Bachelor of Mining Engineering pada 2002. Dua tahun setelahnya, ia memperoleh gelar Master of Commerce Finance. Ia kembali menempuh pendidikan Master of Mining Engineering pada 2006 dan Master of Geomechanics tiga tahun kemudian.

Mahony kemudian memulai karier profesional sebagai Shift Engineer di Baulderstone Hornibrook pada 2003–2004. 

Selepas itu, dia bergabung dengan Xstrata Coal sebagai Business Development Analyst sekaligus Mining Engineer pada April 2004 hingga Juni 2005. 

Setelah periode itu, Mahony pindah ke salah satu perusahaan tambang besar, BHP Billiton dengan beberapa posisi mulai dari Geotechnical/Mining Engineer, Longwall Projects Coordinator, Superintendent Prestrip hingga Principal Business Analyst dan Manager Reporting. 

Dia juga sempat menduduki jabatan Manager Production Projects dan Manager Production Prestrip sebelum akhirnya bergabung dengan Vale SA (perusahaan induk Vale Indonesia) pada Juli 2014.

Di Vale SA, dia menempati sejumlah posisi global seperti General Manager Resource Development & Long Term Planning, Technical Executive – Global Coal Business hingga Global Head of Geology, Mine Engineering, Geotechnical, Tailings Dams and Technology.

Mahony juga sempat dipercaya sebagai Global Head of Technology & Innovation Vale sebelum menjadi Chief Technical Officer dan kemudian Director–Technical di Vale Base Metals. 

Pengalamannya di sektor hilirisasi dan pengembangan teknologi tambang kemudian membawanya ke Indonesia. Pada Juli 2024, dia bergabung dengan Vale Indonesia sebagai Chief Strategy and Technical Officer

Namun, masa jabatannya di emiten berkode saham INCO hanya bertahan satu tahun sebelum mengundurkan diri pada Juli 2025. 

Selepas dari Vale Indonesia, dia bergabung dengan Danantara Indonesia dan menjabat sebagai Senior Executive Vice President (SEVP) Business Performance & Optimization sejak September 2025.

PT DSI

PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sendiri baru dibentuk pada 18 Mei 2026 lalu dan berkantor pusat di Wisma Danantara Indonesia, Jalan Gatot Subroto Jakarta.

Mengutip dokumen Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum, modal dasar DSI tercatat sebesar Rp100 juta, yang terdiri dari 399 lembar saham seri A senilai Rp99.750.000 dan satu lembar saham seri B dengan besaran Rp250.000.

BPI Danantara lewat PT Danantara Asset Management memegang 99 lembar saham seri A dengan nilai Rp24.750.000. Sementara itu, saham Seri B dipegang langsung Pemerintah Indonesia dengan nilai Rp250.000.

Pemegang saham menempatkan Luke Thomas Mahony yang berstatus warga negara Australia sebagai Direktur Utama (Dirut). 

Sementara jabatan komisaris utama DSI diisi oleh Harold Jonathan Dharma TJ. Dia tercatat pernah menjabat sebagai Direktur Mandiri Sekuritas.

Pemerintah membentuk dan menunjuk PT DSI sebagai BUMN yang mengelola ekspor untuk sejumlah komoditas SDA strategis, seperti batu bara, kelapa sawit, dan paduan besi (ferro-alloys). 

Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat pengawasan transaksi ekspor dan menekan praktik under-invoicing, under-pricing, hingga transfer pricing di sektor SDA.

—Dengan asistensi laporan dari Dovana Hasiana

(smr/ros)

No more pages