Di sisi lain, terdapat tantangan dalam menyalurkan gas dari lapangan lepas pantai atau offsore, di antaranya melibatkan infrastruktur bawah laut yang kompleks, kondisi lingkungan ekstrem, dan risiko keselamatan tinggi.
“Nah apalagi nanti ini kan dibuat pipeline dari offshore ke dalam. Kemudian skemanya adalah pakai APBN dan menggunakan multi-years contract. Nah jadi ya kita berprediksi sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Dirjen Migas,” ungkapnya.
Lebih lanjut, kebutuhan gas untuk industri, khususnya PT Pupuk Iskandar Muda dari BP diharapkan dapat terselesaikan dengan penyaluran gas dari Andaman ini.
“Mubadalah sebesar 300 MMSCFD. Tapi mungkin diolah di kita [BPMA] sekitar 100-an atau 150-an. Dan kita harap ketergantungan PT Pupuk Iskandar Muda dengan BP itu bisa selesai dengan gas tersebut,” ujarnya.
Sebagai catatan, Mubadala Energy mengelola lima wilayah kerja di Laut Andaman dengan estimasi total potensi gas yang ditemukan mencapai sekitar 11 Triliun Kaki Kubik (TCF). Pada tahap awal di Blok South Andaman, produksi gas direncanakan mencapai 312 MMSCFD yang akan onstream sebelum akhir 2028.
Adapun, proyek pembangunan pipa gas transmisi Dusem (Dumai–Sei Mangkei) ditargetkan rampung pada akhir 2027, dengan proyeksi pengaliran gas mulai beroperasi penuh pada tahun 2028.
(smr/ros)




























