Ia menyebut saat ini Ditjen EBTKE telah mengambil 12 lokasi sample sebagai tempat-tempat yang sudah menghasilkan BBMT. Tahap selanjuitnya adalah mengelompokkan BBMT ini berdasarkan cetane number (angka setana), contohnya CN-53 atau CN-48.
“Nah ini yang perlu saya klarifikasi, ini saya sampling semua. Pihak kami yang men-sampling sekarang. Pihak kami membawa sampling terus nanti diuji di Lemigas,” ungkap dia.
Sebelumnya, proyek bahan bakar dari sampah ini diungkap oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Proyek ini akan digarap bersama oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) hingga TNI.
“Sebelumnya sampah diubah menjadi listrik, sekarang kita kerja sama lagi [sampah jadi BBM] dengan TNI, teknologinya dari BRIN dan Dikti,” ujar Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan, ketika ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
"Ada enam [lokasi]. Ada di Bantargebang, ada di Bandung, ada di Bali," ucap Zulhas.
Zulhas juga menjelaskan terdapat perbedaan pada proyek ini dengan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Untuk PSEL, pemerintah akan menggunakan sampah-sampah baru, sedangkan untuk BBM menggunakan sampah yang sudah menggunung.
“Kita sudah punya sampah yang menggunung, setinggi gedung 16 lantai. seperti di Bantargebang. Itu sekarang yang pakai pirolisis. Tumpukan sampah yang tinggi-tinggi itu akan diolah menjadi BBM,” ucap Zulhas.
(smr/ros)






























