Logo Bloomberg Technoz

Hendra memastikan Menteri ESDM telah menyetujui plan of development (POD) ZAL di Blok Tuna, sehingga proyek tersebut diharapkan segera onstream.

Saat ini, kata dia, terdapat perubahan dalam kepemilikan hak partisipasi atau participating interest (PI) di Blok Tuna—di mana operator Blok Tuna terdahulu, Harbour Energy Plc, melepas hak partisipasinya ke Prime Group.

“Itu kan ada perubahan ini kontraknya. Tapi POD-nya sudah ditanda tangan Pak Menteri,” ujar dia.

Adapun, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memastikan Prime Group bakal menjadi mitra anak usaha Zarubezhneft, ZAL, dalam menggarap Blok Tuna.

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus menyatakan transaksi akuisisi hak partisipasi atau PI Harbour Energy plc di Blok Tuna dilakukan bersama dengan akuisisi di Natuna Sea block A.

“Tapi yang jelas Prime-lah. Kan untuk closing the deal ya harus satu paket kan semuanya, sama yang blok A [Natuna Sea block A],” kata Rikky kepada awak media di sela IPA Convex 2026, Rabu (20/5/2026).

Rikky juga menegaskan sejauh ini belum terdapat mitra lokal lainnya yang berencana turut bermitra dengan ZAL dan Prime Group di Blok Tuna.

“Mitra lokal lain kalau saya lihat sih sejauh ini enggak ada. Kan belinya satu paket gitu [Blok Tuna dan Natuna Sea block A]. Tapi kita kan belum tahu nanti bisa sharing lagi,” tegas dia.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengklaim proses engineering, procurement, and construction (EPC) Blok Tuna bakal dimulai dalam waktu dekat dan ditargetkan dapat onstream paling cepat pada 2028.

Bahlil menjelaskan operator Blok Tuna terdahulu, Harbour Energy Plc, sudah menyelesaikan proses pelepasan hak partisipas-nya di Blok Tuna ke Prime Group. Dengan begitu, dia bakal mendorong agar proses EPC dapat dilakukan secara cepat.

“Nah itu, kemarin dari Harbour Inggris, itu sudah melepas sebagian sahamnya untuk pengusaha nasional. Jadi saya pikir itu sebentar lagi sudah EPC sudah jalan. Kita targetkan untuk bisa melakukan percepatan produksinya pada 2028, paling lama 2029,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).

Sekadar informasi, Harbour Energy menandatangani kesepakatan jual beli atau purchase and sale agreement (PSA) untuk menjual seluruh hak partisipasinya di Blok Tuna kepada Prime Group.

Proyek yang berdekatan dengan Vietnam itu telah mendapat persetujuan rencana pengembangan atau plan of developement (PoD) sejak Desember 2022.

Ladang gas itu sebelumnya dikerjakan kongsi Zarubezhneft lewat anak usahanya, ZAL, bersama dengan entitas Harbour Energy di Indonesia, Premier Oil Tuna B.V.

Sebelumnya, dua perusahaan itu masing-masing memegang 50% hak partisipasi atau participating interest (PI), dengan Premier Oil sebagai operator blok.

Hanya saja, konsorsium Premier Oil dan Zarubezhneft Asia tidak kunjung meneken keputusan investasi akhir. Alasannya, terdapat sanksi yang dikenakan kepada Zarubezhneft akibat invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022.

Blok Tuna diestimasikan memiliki potensi gas di kisaran 100—150 million standard cubic feet per day (MMSCFD), menurut data Kementerian ESDM. Adapun, investasi pengembangan lapangan hingga tahap operasional ditaksir mencapai US$3,07 miliar.

(azr/ros)

No more pages