Pelaku pasar disebut-sebut merespons negatif rencana pemerintah mendirikan badan khusus bentukan negara untuk mengatur pengapalan komoditas strategis melalui sistem satu pintu.
Adapun, sejumlah komoditas yang dirumorkan akan diatur di antaranya batu bara, CPO hingga mineral logam. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran investor bahwa akan ada potensi pengendalian harga jual yang dapat berdampak pada penurunan margin laba perusahaan.
Agenda kedua yang juga dinanti para pelaku pasar adalah hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) hari ini, yang akan mengumumkan keputusan suku bunga acuan (BI Rate).
Tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus terjadi membuat pasar meyakini bahwa fokus utama RDG BI kali ini bukan lagi soal mendorong pertumbuhan ekonomi, melainkan mempertahankan stabilitas makroekonomi dan menjaga kepercayaan investor.
Konsensus pasar Bloomberg memperkirakan BI Rate naik ke 5%. Sebagian ekonom mulai membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan rupiah terus memburuk dan capital outflow semakin besar. Bahkan, salah satu ekonom memproyeksikan BI Rate bisa naik ke posisi 5,25% jika tekanan terhadap rupiah makin tak terbendung.
(dhf)





















