Logo Bloomberg Technoz

Melansir data Bloomberg, UST tenor 2 tahun menawarkan yield 4,11% sama seperti yield surat utang Indonesia berdenominasi dolar AS, INDON tenor 2 tahun juga berada di 4,19%. Sementara, selisih yield tenor 5 tahun makin tipis, INDON 4,8% sementara UST 4,3%. 

Selisih yang tipis ini membuat investor lebih meminati pasar obligasi AS yang menawarkan kepastian ketimbang di Indonesia. 

Di saat yang sama, kenaikan harga minyak mentah dunia semakin memperburuk persepsi risiko terhadap negara importir energi seperti Indonesia karena berpotensi menekan neraca perdagangan dan meningkatkan tekanan inflasi domestik. 

Kondisi ini membuat ruang stabilisasi rupiah jadi makin sempit. Terlihat dari intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) tak kunjung mengobati fluktuasi rupiah. 

Pasar mulai melihat bahwa tekanan kali ini bukan cuma gejolak jangka pendek, akan tetapi ada sentimen global yang bersifat lebih struktural. Salah satunya, ada kekhawatiran akan inflasi global karena kenaikan harga minyak. 

Alhasil, pasar menuntut BI untuk mengambil langkah hawkish dengan menaikkan BI Rate menjadi 5%. Hari ini, BI akan mengumumkan suku bunga acuan. 

Konsensus dihimpun Bloomberg yang melibatkan 40 ekonom/analis menghasilkan median estimasi 5%, artinya BI Rate diperkirakan akan naik.

(dsp/aji)

No more pages