Memasuki Februari, realisasi naik 7,55% secara tahunan menjadi Rp9,97 triliun dibandingkan Februari 2025 sebesar Rp9,27 triliun.
Pada Maret 2026, PNBP minerba naik 3% secara tahunan menjadi Rp12,01 triliun dari Rp11,66 triliun pada Maret 2025.
Sementara pada April 2026, setoran PNBP dari sektor minerba naik 23,07% menjadi Rp15,79 triliun dibandingkan April 2025 sebesar Rp12,83 triliun.
Sekadar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 5,61% secara year on year (yoy).
Berdasarkan lapangan usaha, industri pertambangan dan penggalian terkontraksi 2,14%, serta industri pengadaan listrik dan gas yang mengalami kontraksi sebesar 0,99%.
Kontraksi di industri pertambangan justru terjadi saat lapangan usaha lainnya mencatatkan pertumbuhan pada awal tahun ini. Industri pengolahan tumbuh 5,04%; perdagangan, reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 6,26%; pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,97%; transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04%; penyediaan akomodasi dan makanan minuman tumbuh 13,14%; serta jasa lainnya tumbuh 9,91%.
Target Diprediksi Tak Tercapai
Ketua Dewan Penasihat Perhapi Rizal Kasli berpendapat lesunya kinerja pertambangan pada awal tahun ini dapat membuat PNBP dari sektor minerba sepanjang tahun hanya tercapai sekitar 90% dari target 2026 yang dibidik senilai Rp134 triliun.
Dia mengelaborasi, pada awal tahun ini, produksi emas dari tambang PT Freeport Indonesia (PTFI) mengalami penurunan gegara longsor yang terjadi tahun lalu.
Selain itu, pemangkasan produksi batu bara juga terbilang cukup dalam mencapai 150 juta ton menjadi 600 juta ton.
Ihwal pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, Rizal memprediksi kebijakan tersebut bakal membuat penambang melakukan efisiensi penggunaan alat berat dan mengurangi jumlah pekerja tambang.
“Tujuan pemerintah mengurangi kuota produksi lebih kepada menjaga kestabilan harga komoditas akibat oversupply di pasar global. Namun, dampaknya terasa juga kepada cashflow dan keuntungan perusahaan,” kata Rizal ketika dihubungi, Kamis (7/5/2026).
“Untuk target PNBP yang sebesar Rp134 triliun kemungkinan tercapai sekitar Rp120—Rp130 triliun atau 90%—97% dari target,” lanjut dia.
Rizal memprediksi setoran PNBP dari royalti batu bara dengan asumsi produksi 600 juta ton dan harga berlaku saat ini dapat mencapai sekitar Rp90 triliun.
Dia juga menekankan bahwa saat ini pasar batu bara sebenarnya tidak sedang lesu, sebab gejolak di Timur Tengah meningkatkan permintaan komoditas tersebut.
“Filipina dikabarkan menambah pesanan batu bara dari Indonesia. Harga batu bara juga melonjak karena faktor tersebut,” ujar Rizal.
(azr/ros)





























