Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Meski Rupiah Sentuh Rp17.700, BI Rate Tak Perlu Naik

Redaksi
19 May 2026 17:40

Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat terus mencatatkan penurunan sehari sebelum pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). Pergerakan rupiah hari ini sempat menyentuh titik terlemah sepanjang masa yaitu Rp17.733/US$ pada 13:54 WIB.

Meski dengan intervensi yang sudah habis-habisan dilakukan oleh BI, Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan bahwa otoritas moneter tak perlu menaikkan suku bunga acuan.

“Karena BI rate naik, praktis suku bunga yang lainnya pun juga ikut naik. Itu semakin membebani real sector, yang sekarang banyak yang terpukul akibat posisi valas dolar yang nilainya mahal, dan juga biaya untuk ekspansi bisnis jadi lebih mahal juga,” kata Myrdal saat dihubungi Bloomberg Technoz, Selasa (19/5/2026).

Terlebih, menurut Myrdal, perlemahan mata uang garuda ini terjadi imbas tekanan global yang begitu kuat ditambah dengan adanya hot money outflow di pasar keuangan ataupun juga adanya faktor musiman yang membuat permintaan terhadap greenback cenderung meningkat.


“Faktor musimannya bisa berupa transfer dividen, keluar, ataupun juga haji ya. Nah, kalau kondisinya begitu, sebenarnya untuk nilai tukar rupiah bisa lebih kuat lagi asalkan ekspor itu bisa dimaksimalkan konversinya. Jadi, jangan sampai eksportir itu menahan untuk konversi valas ke rupiah. Plus ditambah juga adanya langkah intervensi moneter yang agresif dilakukan oleh BI,” katanya.

Menurutnya BI dengan kapasitas cadangan devisa yang mencapai US$146,1 miliar di bulan April seharusnya berani untuk mempertahankan suku bunga.