Logo Bloomberg Technoz

Kondisi penuh tekanan ini membuat pasar semakin yakin bahwa kini fokus utama RDG BI kali ini sepertinya bukan lagi soal mendorong pertumbuhan ekonomi, melainkan mempertahankan stabilitas makroekonomi dan menjaga kepercayaan investor. 

Gubernur BI Perry Warjiyo sepertinya mulai memberi sinyal perubahan orientasi kebijakan. Jika pada 2025 kebijakan moneter diarahkan untuk menopang pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi, maka kini fokusnya harus kembali kepada stabilitas.

Pernyataan tersebut menjadi petunjuk bahwa BI mulai menempatkan pengendalian volatilitas rupiah sebagai prioritas utama.

Konsensus pasar Bloomberg memperkirakan BI Rate naik ke 5%. Sebagian ekonom mulai membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan rupiah terus memburuk dan capital outflow semakin besar.

Bahkan, salah satu ekonom memproyeksikan BI Rate bisa naik ke posisi 5,25% jika tekanan terhadap rupiah makin tak terbendung. 

Pasar tampaknya mulai menghitung bahwa selisih imbal hasil aset rupiah dengan risiko yang ditanggung investor semakin menipis. Ketika risiko nilai tukar meningkat, investor tentu akan meminta kompensasi yield yang lebih tinggi. Jika tidak terpenuhi, maka tekanan jual pada obligasi domestik bisa semakin besar.

(dsp/aji)

No more pages