“Kalau sentimen positif, biasanya asing juga ikut masuk dan rupiah cenderung terkendali karena uangnya nggak keluar lagi,” tegas Purbaya.
“Kalau yield turun, kan berarti harga bond-nya naik, nanti ada potensi capital gain. Jadi seharusnya pasar bond kita [Indonesia] menarik.”
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto seusai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto, serta Purbaya, ikut menerangkan bahwa pemerintah RI terus menggodok kebijakan ekonomi baru.
Airlangga menolak memberi rincian, namun berjanji pada saatnya tiba akan disampaikan secara terbuka kepada publik. “Masih dimatangkan nanti sesudahnya baru kita beritahukan,” jelas dia.
catatan perdagangan valas hari ini menunjukkan bahwa nilai rupiah tembus Rp17.656/US$ atau terlemah sepanjang sejarah. Posisi depresiasi hari ini saja tembus 1,08%, yang disinyalir efek dari peningkatan persepsi risiko terhadap aset Indonesia secara keseluruhan.
Secara global, faktor perang di Iran juga jadi faktor penentu sehingga melemahkan optimisme penyelesaian dalam waktu dekat. Ketegangan di Timur Tengah diketahui semakin menakan harga minyak, hingga berujung pada kerentanan ekonomi.
Catatan Bloomberg bahkan rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia, sejalan dengan penurunan indeks acuan di pasar saham utama, serta kenaikan 17 bps yield obligasi tenor 10 tahun.
Catatan Khoon Goh, kepala riset Asia di ANZ Banking Group meyebutkan, “investor telah khawatir mengenai posisi fiskal Indonesia akibat tingginya beban subsidi energi.”
Yield global yang lebih tinggi menambah “tekanan pada rupiah karena yield [pasar obligasi] dalam negeri perlu naik agar cukup menarik bagi aliran modal asing untuk dipertahankan,” tegas dia, dilaporkan Bloomberg News.
(dov/wep)





























