Di sisi lain, KLBF belum dapat menyesuaikan harga jual produk atau ASP kepada pelanggan.
Selain faktor nilai tukar, tekanan margin juga dipengaruhi oleh perubahan komposisi pendapatan, di mana segmen distribusi, yang memiliki margin lebih rendah, menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 36%.
Di sisi lain, kenaikan biaya operasional sebesar 7% secara tahunan turut menambah tekanan terhadap profitabilitas.
“Gross margin pada kuartal I 2026 terkoreksi ke 38,3% yang mayoritas disebabkan oleh depresiasi rupiah terhadap US$, di mana setiap depresiasi Rp100 per US$ berpotensi menekan GPM sekitar 0,1%,” kata Analis Panin Sekuritas, Sarkia Adelia dalam risetnya dikutip Senin (18/5/2026).
Secara rinci, depresiasi rupiah sekitar 2–3% secara tahunan berkontribusi pada penurunan margin di sejumlah segmen utama.
Segmen farmasi mencatatkan penurunan GPM sebesar 251 basis poin, diikuti consumer health sebesar 136 basis poin, dan nutrisi sebesar 118 basis poin. Selain itu, kenaikan harga bahan baku tertentu, termasuk skim milk, turut memperberat tekanan biaya.
Sementara itu, sensitivitas terhadap laba juga meningkat, di mana setiap depresiasi 1% rupiah berdampak pada penurunan laba sebelum pajak sebesar Rp6 miliar pada kuartal pertama, lebih tinggi dibandingkan Rp3,8 miliar pada 2025.
Sarkia menyampaikan, tekanan tambahan terhadap margin juga berasal dari kenaikan biaya kemasan akibat gangguan rantai pasok.
Harga plastik tercatat meningkat sekitar 40–50%, dengan dampak yang diperkirakan mulai terlihat pada kuartal kedua mendatang.
Sebagai informasi, komponen packaging berkontribusi sekitar 15% terhadap cost of goods sold (COGS) manufaktur, atau sekitar 7–8% dari total COGS.
“Alhasil laba bersih perseroan kami proyeksikan melambat 3-5% di tahun ini,” imbuh Sarkia.
Di sisi lain, kinerja KLBF tahun ini masih akan didorong oleh pertumbuhan segmen pharma dan distribution & logistic, kesehatan neraca perseroan yang memberikan fleksibilitas bagi perusahaan serta, rencana buyback perusahaan sebesar Rp500 miliar.
“Namun perlu dicermati tekanan margin yang akan mempengaruhi profitabilitas di 2026 di tengah ketidakpastian makroekonomi,” tutur Sarkia.
Rupiah Sempoyongan
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 1,08% ke posisi Rp17.656/US$ di perdagangan spot hari ini, Senin (18/5/2026). Rupiah mencatat rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah.
Pelemahan rupiah kali ini sepertinya bukan sekadar respons jangka pendek terhadap gejolak global. Lebih dari itu, tekanan terhadap rupiah terjadi lantaran adanya peningkatan persepsi risiko terhadap aset Indonesia secara keseluruhan.
Harga minyak yang masih melambung dan sempat menyentuh US$111 per barel pada perdagangan hari ini memang masih jadi pemicu utama. Jalur distribusi energi global terganggu membuat pasar khawatir terhadap lonjakan inflasi energi dunia.
Kondisi ini praktis jadi sentimen negatif bagi negara-negara emerging markets pengimpor minyak seperti Indonesia. Di Asia, tekanan eksternal dari harga minyak telah membayangi pergerakan mata uang kawasan sejak awal Maret lalu hingga hari ini.
Namun, tak semua mata uang kawasan melemah. Yuan China dan offshore serta baht Thailand mampu membalikkan keadaan meski penguatannya terbatas.
Sementara, posisi rupiah saat ini menjadi mata uang terlemah di kawasan. Sepertinya faktor eksternal saja tidak cukup untuk menjelaskan besarnya tekanan terhadap rupiah.
Depresiasi rupiah yang terjadi sejak pekan lalu secara konsisten tanpa jeda, mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih memilih dolar AS sebagai aset aman daripada mempertahankan eksposur mereka di pasar domestik.
Sebab pada saat yang sama, sejumlah mata uang Asia masih mampu bergerak defensif dan menguat dibanding rupiah. Kondisi ini menunjukkan pasar mulai memberikan premi risiko lebih tinggi terhadap Indonesia, terutama terkait kondisi fiskal dan arus modal asing.
Kekhawatiran tersebut semakin terlihat dari pergerakan pasar obligasi domestik. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor panjang masih bertahan tinggi. Kenaikan yield ini berarti biaya utang pemerintah berpotensi meningkat di tengah kebutuhan pembiayaan APBN yang juga semakin besar.
(cpa/naw)




























