Akan tetapi, ancaman terbesar justru dirasakan oleh supply chain lokal dan industri kecil menengah (IKM) yang menjadi supplier komponen mesin konvensional tersebut, karena mayoritas komponen canggih EV masih diimpor.
“Transisi yang terlalu agresif tanpa kesiapan proteksi berisiko melumpuhkan ekosistem manufaktur lokal yang selama ini menopang industri ICE,” ujarnya.
Dalam kaitan itu, dia menyarankan pemerintah dan pelaku industri perlu menerapkan strategi transisi realistis melalui pendekatan konsep multi-pathway, seperti yang ditawarkan oleh Toyota.
“Dengan menempatkan HEV [hybrid electric vehicle] sebagai jembatan utama sambil terus mengoptimalkan insentif berbasis TKDN yang memberikan pengurangan pajak untuk mobil HEV yang dirakit lokal,” jelas dia.
Langkah tersebut, kata dia, dapat menurunkan harga sekitar 6%-10% demi menjaga volume produksi pabrikan dalam negeri serta mempertahankan penyerapan tenaga kerja.
Selanjutnya, pemerintah juga perlu memikirkan subsidi investasi atau kredit lunak bagi IKM komponen ICE agar mereka memiliki modal untuk melakukan penggantian mesin re-tooling serta upskilling sumber daya manusia (SDM) menuju era elektrifikasi.
Menurut Yannes, langkah bertahap ini diperkirakan bakal memakan waktu 2–3 tahun demi memastikan rantai pasok lokal yang ada tidak akan mati dan tetap berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik terus meningkat sepanjang April 2026.
Penjualan wholesales EV tercatat mencapai 14.815 unit atau naik sekitar 40% dibanding bulan sebelumnya yang berada di level 10.572 unit.
Pangsa pasar kendaraan listrik kini mencapai sekitar 18,34% dari total penjualan mobil nasional.
BYD menjadi merek EV terlaris pada April 2026 dengan penjualan 4.625 unit, disusul JAECOO 3.179 unit, Geely 1.703 unit, Wuling 1.073 unit, dan AION 884 unit.
Secara keseluruhan, penjualan mobil nasional dari pabrik ke dealer pada April 2026 mencapai 80.776 unit atau naik 31,84% dibanding bulan sebelumnya.
(mfd/naw)





























