Logo Bloomberg Technoz

Awal bulan ini, Iran menetapkan prosedur terbaru bagi kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz, yang melibatkan berurusan dengan badan bernama Otoritas Selat Teluk Persia. Pada saat yang sama, AS mempertahankan blokade dari tepi Teluk Oman terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Hal ini telah memperlambat lalu lintas maritim di wilayah tersebut, meski beberapa kapal berhasil melintas berkat kesepakatan antarpemerintah. Namun, meski beberapa kapal tanker berhasil lolos, masih belum jelas apakah mereka bersedia kembali mengingat risiko terhadap pelayaran.

Dalam beberapa pekan terakhir, beberapa kapal komersial melintas dengan sinyal satelit dimatikan, artinya kemungkinan jumlahnya akan meningkat di masa mendatang setelah kapal-kapal tersebut muncul kembali di luar Timur Tengah.

Secara total, 38 kapal dari berbagai jenis—bukan hanya kapal tanker minyak—telah melintasi Selat Hormuz ke dua arah selama tujuh hari terakhir, tiga kali lipat dari jumlah pada pekan hingga 9 Mei. Sebagian besar kapal tersebut melintas tanpa mengirim sinyal hingga mencapai Teluk Oman. 

“Memang ada peningkatan, tetapi angkanya sangat rendah, sehingga tidak akan banyak berpengaruh,” kata Georgios Sakellariou, analis angkutan laut dari Signal Maritime. “Masalah utamanya adalah, meski semua kapal tanker yang ada di dalam selat berangkat, kapal-kapal baru tidak akan masuk dalam waktu dekat.”

Dari empat kapal supertanker yang berangkat dengan sinyal menyala, tiga di antaranya memuat minyak mentah di Irak. Satunya membawa kargo dari Uni Emirat Arab dan Kuwait, menurut data pelacakan kapal.

Iran mengatakan pada Kamis bahwa mereka kini mengizinkan kapal-kapal China melintasi Selat Hormuz, setelah berdiskusi dengan kementerian luar negeri negara tersebut. Sehari sebelumnya, kapal tanker raksasa Yuan Hua Hu menjadi kapal VLCC China ketiga yang melintasi jalur air tersebut. 

Tren serupa juga terjadi di pasar lain, di mana sejumlah kapal gas berukuran sangat besar menambah jumlah penyeberangan dalam beberapa hari terakhir. 

Pelacakan jumlah kapal yang melintasi Hormuz menjadi rumit karena beberapa kapal melintas sambil mematikan transponder satelitnya. Bulan lalu, bos perusahaan perdagangan komoditas Mercuria Energy Group mengatakan perusahaannya berhasil mengeluarkan kapal-kapal dari selat tersebut, tetapi menolak menjelaskan caranya. 

Perusahaan minyak Timur Tengah, seperti Saudi Arabia Aramco Trading Co dan perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab, Abu Dhabi National Oil Co, juga telah mengangkut kargo minyak mentah melalui jalur tersebut sejak ditutup, kata orang-orang yang mengetahui situasi tersebut pekan lalu.

(bbn)

No more pages