Pertemuan ini menyoroti upaya Seoul untuk memposisikan diri sebagai pemain konstruktif di tengah intensitas persaingan antara AS dan China yang kian memanas.
Konflik di Timur Tengah yang pecah sejak akhir Februari lalu telah memicu krisis minyak yang mengekspos kerentanan ekonomi negara-negara seperti Korea Selatan. Negara ini mengimpor mayoritas kebutuhan energinya, termasuk sekitar 70% minyak mentah, melalui Selat Hormuz yang saat ini tengah bergejolak.
Hubungan dengan Beijing menjadi sangat krusial bagi Presiden Lee, yang tengah berupaya meredakan ketegangan dengan Korea Utara yang bersenjata nuklir.
Hingga kini, China tetap menjadi penyokong terpenting bagi Pyongyang dengan memberikan dukungan ekonomi yang vital di saat AS dan sekutunya terus mempertahankan sanksi. Pada September lalu, Presiden Xi Jinping menjamu Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam sebuah parade militer di Beijing, di mana Xi dan Kim berjanji untuk memperdalam kerja sama mereka.
Sebagai bagian dari upaya "pemulihan penuh" hubungan bilateral, Presiden Korea Selatan telah mengunjungi Beijing untuk menemui Xi pada Januari tahun ini, menyusul kunjungan pemimpin China tersebut ke Korea Selatan pada akhir Oktober lalu.
(bbn)



























