Logo Bloomberg Technoz

Lantas bagaimana pelaku pasar memandang hasil pengumuman ini? Apakah sesuai dengan harapan, atau dinilai negatif?

Mengutip riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam catatan terbarunya menyebut, hasil ini berbeda dari prediksi, terlihat adanya percepatan risiko free float dari perkiraan sebelumnya.

“Tampaknya MSCI langsung merespons penurunan free float berdasarkan pengungkapan kepemilikan >1% dari KSEI lebih cepat dari perkiraan,” papar Mirae Asset Sekuritas, Rabu.

Sebelumnya, diproyeksikan risiko ini baru akan muncul pada tinjauan Agustus 2026. Dengan penyesuaian yang ditarik lebih dulu pada periode Mei, dengan itu– tidak akan ada lagi emiten lain yang berisiko terkena faktor serupa pada tinjauan berikutnya.

Menurut Mirae Asset Sekuritas, dampak penyesuaian ini terhadap posisi Indonesia di pasar global adalah adanya penurunan bobot. Adapun bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets (EM) diestimasikan menyusut dari sebelumnya 0,7% menjadi 0,5% (di mana ada penurunan 27% point–to–point).

“​Potensi outflow (dana keluar) dari gabungan investor aktif dan pasif akibat eksklusi ini mencapai US$1,7 miliar,” lanjut riset tersebut.

Terlebih lagi jika diperhitungkan ​total outflow secara keseluruhan, berpotensi mencapai US$2,8 miliar jika melihat potensi penurunan bobot (downweight) pada konstituen lainnya.

Bagi pasar, yang sejalan dengan pandangan terbaru, risiko buruk mengenai reklasifikasi Indonesia ke Frontier Market saat ini secara efektif telah hilang. Tekanan yang tersisa hanyalah residu dari penurunan bobot indeks.

Kendati pasar akan mengalami tekanan jangka pendek, Mirae Asset Sekuritas percaya bahwa fase terburuk sudah berlalu. 

“Kami memproyeksikan sentimen akan pulih secara bertahap,” tulis laporan Mirae Asset.

Katalis positif berikutnya yang dinanti adalah tinjauan aksesibilitas pasar pada bulan Juni, yang diharapkan akan mencabut kebijakan pembekuan sehingga inklusi saham baru dan migrasi bobot ke atas (upward migration) dapat kembali terjadi bagi pasar saham Indonesia.

Senada, riset Phintraco Sekuritas menyebut rebalancing MSCI Mei 2026 cenderung di bawah ekspektasi pasar, jumlah saham Indonesia yang dikeluarkan lebih banyak dari perkiraan awal.

“Kondisi ini mencerminkan penurunan representasi saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes,” jelas riset Phintraco Sekuritas.

Perubahan tersebut berpotensi memicu passive outflow dan meningkatkan volatilitas jangka pendek, terutama pada saham–saham yang dikeluarkan seiring penyesuaian portofolio investor institusi global berbasis MSCI. 

“Dengan country weight Indonesia sekitar 0,72%, rebalancing kali ini dapat mendorong potensi outflow sekitar Rp28–31 triliun,” terang analisis Phintraco Sekuritas.

Saham Indonesia di Indeks MSCI (Bloomberg Technoz)

(fad)

No more pages