Putin mengungkapkan bahwa Rusia mulai mengerjakan ICBM berat ini sejak 2011. Proyek ini pertama kali diperkenalkan ke publik dalam pidato Maret 2018, di mana ia memamerkan serangkaian senjata modern baru yang diklaim mampu membuat pertahanan rudal AS menjadi "tidak efektif". Saat itu, Putin menyebut Sarmat sebagai "senjata unik", dan sebuah presentasi video dalam pidatonya bahkan menunjukkan hulu ledak yang mengarah ke peta Florida Selatan.
Pada Selasa kemarin, Putin menyebutkan bahwa jangkauan rudal tersebut melebihi 35.000 kilometer.
Meski demikian, pengamat militer memberikan catatan kritis. "Masalah terpenting bagi Moskow sebenarnya bukan soal daya ledak total, melainkan keberhasilan uji coba itu sendiri, jika memang benar sukses," ujar Douglas Barrie, peneliti senior kedirgantaraan militer di International Institute for Strategic Studies, London. "Pengembangan Sarmat selama ini bukannya tanpa masalah."
Selama beberapa tahun terakhir, program rudal strategis Rusia, khususnya pengembangan Sarmat, memang menghadapi hambatan besar. Berdasarkan laporan kantor berita pemerintah RIA Novosti, rudal ini awalnya ditargetkan beroperasi pada akhir 2022. Meskipun pada 2023 Rusia sempat mengumumkan telah menempatkan ICBM tersebut dalam tugas tempur, pengumuman hari Selasa kemarin mengisyaratkan bahwa hal itu sebenarnya belum terlaksana.
Uji coba peluncuran pertama rudal ini dilakukan dua bulan setelah dimulainya invasi skala penuh Kremlin ke Ukraina pada Februari 2022.
Menurut Pavel Podvig, pakar dari United Nations Institute for Disarmament Research, uji coba terbaru ini adalah peluncuran sukses kedua setelah tahun 2022. Ia mengatakan setidaknya ada dua kegagalan uji coba di antara periode tersebut.
"Ini adalah investasi politik," kata Podvig. "Hal ini tidak akan memengaruhi keseimbangan kekuatan atau kebijakan pencegahan nuklir secara signifikan. Dari perspektif militer murni, dampaknya tidak terlalu besar."
(bbn)
































