Logo Bloomberg Technoz

Indeks dolar AS pun kembali menguat ke atas level 98, mencerminkan meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe haven.

Di saat bersamaan, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ikut naik, membuat aliran modal asing cenderung keluar dari negara berkembang menuju instrumen dolar AS yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi.

Namun pelemahan rupiah kali ini tidak semata dipicu faktor global. Pasar juga mulai menyoroti meningkatnya tekanan dari dalam negeri, terutama terkait kondisi fiskal, likuiditas, dan ketidakpastian arah kebijakan pemerintah. 

Mundurnya pengenaan royalti terhadap hasil tambang dalam batas waktu yang belum ditentukan, bukan cuma menambah daftar ketidakpastian kebijakan di dalam negeri, tetapi juga menyebabkan hilangnya potensi pendapatan negara di tengah kebutuhan anggaran belanja yang jumbo. 

"Ketidakpastian revisi tarif minerba dapat berdampak negatif terhadap risiko melebarnya defisit fiskal pemerintah tahun ini yang tertekan oleh efek perang Iran," sebut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, dalam catatannya.

Ia juga memproyeksikan, jika rupiah sore ini ditutup di level Rp17.500/US$, maka berisiko melanjutkan pelemahan ke arah Rp17.600/US$ hingga Rp17.800/US$ dalam jangka pendek. 

Efek Musiman

Tekanan terhadap rupiah sore ini diperparah oleh meningkatnya kebutuhan repatriasi dividen investor asing dari pasar saham domestik yang terjadi pada kuartal kedua. 

Berdasarkan estimasi Mega Capital Sekuritas terhadap saham-saham yang mencakup 53% kapitalisasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), potensi repatriasi dividen diperkirakan mencapai Rp75,3 triliun sepanjang April hingga Juli 2026, meningkat tajam dibanding estimasi sebelumnya Rp52,8 triliun. 

Puncak repatriasi diperkirakan terjadi pada Mei dengan nilai mencapai Rp34,2 triliun. Angka ini jauh lebih besar dibanding April yang diperkirakan sekitar Rp23,8 triliun. 

Intervensi Otoritas Moneter

Dari sisi intervensi, langkah Bank Indonesia yang semakin agresif menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) semakin menunjukkan tekanan terhadap rupiah kini tidak lagi bersifat sementara. Namun sayangnya, dampak intervensi itu belum benar-benar menggigit. 

Dalam kondisi pasar yang sangat sensitif terhadap aliran modal, arus keluar devisa dalam jumlah besar di pasar saham membuat ruang penguatan rupiah jadi makin terbatas, meskipun Bank Indonesia terus agresif melakukan intervensi moneter. 

Outstanding SRBI tercatat melonjak menjadi Rp957,91 triliun pada April 2026, naik tajam dari Rp831,21 triliun pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini sekaligus menjadi yang terbesar sejak pertengahan 2024.

Di satu sisi, strategi tersebut berhasil menarik kembali minat investor asing ke instrumen rupiah. Kepemilikan non-residen di SRBI meningkat menjadi Rp192,17 triliun pada April, dari Rp143,91 triliun pada Maret.

Di sisi lain, langkah itu juga menunjukkan BI terpaksa menawarkan imbal hasil lebih tinggi demi mempertahankan aliran modal masuk dan menjaga stabilitas nilai tukar.

Kepemilikan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, per 30 April 2026 (Bloomberg Technoz)

BI kini makin bergantung pada aliran dana asing jangka pendek untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Dengan begitu, tak terelakkan bahwa stabilitas rupiah saat ini ditopang oleh instrumen berbunga tinggi. 

Meski pada lelang Jumat (8/5/2026), yield SRBI telah diturunkan menjadi 6,4% dari 6,5%, tetapi posisi yield ini merupakan posisi tertinggi sejak Mei 2025. 

(dsp/aji)

No more pages