Dalam rebalancing kali ini, sejumlah saham yang diprediksi akan didepak dari indeks antara lain, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Selain itu, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) berpotensi diturunkan ke MSCI Small Cap Index. Sementara PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dinilai berisiko kecil akan turun kelas dan diperkirakan tetap bertahan di indeks utama.
Seiring perubahan tersebut, jumlah konstituen dalam MSCI Indonesia Standard Cap Index diperkirakan berkurang dari 17 saham menjadi 11 saham. Kondisi ini turut menurunkan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets (EM) dari 0,68% menjadi 0,57%.
“Selama kondisi makroekonomi dan nilai tukar rupiah tetap kondusif, kami memperkirakan sebagian besar harga saham Indonesia akan relatif stabil saat rebalancing berlangsung,” ujar Hadi.
Lebih lanjut, Hadi menyebut masuknya data transparansi terbaru dalam perhitungan free float MSCI membuat investor lebih akurat membaca bobot dan status saham, sehingga ketidakpastian menurun.
Citi memproyeksikan angka outflow yang tidak terlalu berbeda jauh. Perkiraannya, akan ada outflow sebesar US$1,6 miliar atau setara sekitar Rp28 triliun pasca pengumuman rebalancing indeks oleh MSCI.
Citi menyebut, arus keluar dana dari pasar domestik dipicu oleh perkiraan keputusan MSCI yang akan mengeluarkan DSSA dan BREN dari indeks. Sementara dalam skenario terburuknya, arus keluar dana pasif dari Indonesia diproyeksi dapat mencapai hingga US$2 miliar.
(dhf)





























