Kedua, Ali menilai masih terdapat risiko perubahan pengerjaan proyek. Selama FID belum diputuskan, konfigurasi kilang, kapasitas, skema petrokimia, hingga struktur pembiayaan masih bisa mengalami penyesuaian.
“Jika EPCC sudah terlalu maju lalu desain berubah, konsekuensinya bisa berupa redesign, renegosiasi kontrak, bahkan keterlambatan proyek,” ungkap Ali.
Ketiga, Ali memandang jika nantinya tender ataupun EPCC sudah dilakukan sebelum FID Rosneft rampung, maka kontraktor berpotensi memandang terdapat ketidakpastian dalam proyek tersebut.
Walhasil, kontraktor bakal memasukkan biaya kontingensi atau dana cadangan untuk menutupi biaya tak terduga atau risiko yang timbul.
“Makin tinggi ketidakpastian proyek, biasanya makin tinggi ‘contingency cost’ yang dimasukkan kontraktor,” lanjutnya.
Bagaimanapun, Ali memandang langkah pembukaan prakualifikasi tender EPCC Kilang Tuban dilakukan untuk menunjukkan bahwa proyek tersebut tetap memiliki kemajuan pengembangan.
Dalam proyek berskala besar seperti GRR Tuban, kata dia, menjaga momentum proyek juga menjadi penting karena biaya pengembangan dan risiko kehilangan ivnestor bisa semakin besar jika proyek lama tertunda.
“Realisasi GRR Tuban tetap sangat bergantung pada kepastian investor, struktur pendanaan, dan konsistensi kebijakan energi nasional dalam beberapa tahun ke depan,” ujar Ali.
Struktur Kepemilikan
Dihubungi terpisah, ekonom energi Center of Reform on Economics (Core) Muhammad Ishak Razak berpendapat jika nantinya proses tender EPC dilanjutkan sebelum adanya kepastian FID, terdapat risiko besar yang membayangi.
Dia menyatakan struktur kepemilikan proyek dapat berubah, jika nantinya Rosneft tiba-tiba keluar dari proyek tersebut atau porsi sahamnya berubah. Jika hal ini terjadi, konfigurasi teknis kilang bisa ikut berubah sehingga hasil engineering menjadi tidak terpakai.
“Kontraktor EPC yang sudah mengeluarkan biaya besar untuk persiapan proposal pun bisa mengajukan klaim kompensasi. Pemenang tender pun juga akan kesulitan mendapatkan pembiayaan bank karena berisiko sebab FID belum pasti,” kata Ishak ketika dihubungi, Selasa (12/5/2026).
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengharapkan tender EPCC dan pembangunan Kilang Tuban dapat segera dieksekusi.
Bahlil menyatakan, dalam kunjungan ke Rusia beberapa waktu yang lalu, dia memang sempat bertemu perwakilan Rosneft.
Dalam kesempatan itu, dia sempat menyinggung agar proyek Kilang Tuban dapat segera dipercepat pembangunannya.
“Memang, saya dalam pertemuan kemarin di Rusia, saya katakan bahwa salah satu isu yang kita harus selesaikan itu adalah kerjasama Pertamina sama Rosneft. Di mana lahannya itu sudah diselesaikan, bahkan investasi JV-nya pun sudah dilakukan. Tidak akan bisa kita merasakan manfaat dari investasi ini ketika kita tidak melakukan percepatan,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).
“Dan mungkin itu bagian sebagai tindak lanjut dari apa yang dilakukan dalam kecepatan kemarin. [....] Saya harus jadi PM, pimpinan proyek Pertamina. Menteri kan enggak boleh bicara terlalu teknis-teknis, yang penting cepat, lebih cepat lebih baik,” tegas Bahlil.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengungkapkan keputusan investasi atau FID raksasa migas Rusia, PJSC Rosneft Oil Company, di Kilang Tuban masih dalam proses.
Sekretaris Perusahaan PPN Roberth MV Dumatubun hanya menyatakan proses FID masih berlangsung, tetapi dia belum mengungkapkan target atau tenggat FID Rosneft di GRR Tuban.
“Sedangkan untuk FID Proyek GRR Tuban saat ini masih dalam proses,” kata Roberth kepada Bloomberg Technoz, Jumat (8/5/2026).
Lebih lanjut, Roberth menjelaskan pembukaan prakualifikasi tender EPCC untuk proyek Kilang Tuban dilakukan untuk menjaring kontraktor potensial.
Dia menyebut kontraktor yang masuk dalam kualifikasi nantinya dapat mengikuti tender EPCC untuk mendukung eksekusi proyek Kilang Tuban.
“Prakualifikasi merupakan bagian dari proses tender untuk menjaring calon kontraktor potensial yang nantinya akan mendukung proses eksekusi proyek GRR Tuban,” ujar Roberth.
Roberth juga belum dapat mengungkapkan rencana dimulainya tender EPCC dan target pengerjaan proyek tersebut. “Nanti akan diinfokan oleh yang ikut prakualifikasi, mengikuti prosedur yang berlaku,” ungkap Roberth.
Sekadar informasi, Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) resmi membuka prakualifikasi tender EPCC untuk proyek Kilang Tuban.
Berdasarkan pengumuman yang dilihat Bloomberg Technoz, anak usaha PT Pertamina (Persero) tersebut bakal membuka dua paket pekerjaan yakni kilang I GRR Tuban dengan nomor BS-001/PRPP-310/2026-S0 dan kilang II GRR Tuban dengan nomor BS-002/PRPP-310/2026-S0.
Prakualifikasi dibuka bagi perusahaan nasional maupun asing, baik perusahaan tunggal maupun konsorsium, joint venture (JV), dan joint operation (JO). Untuk perusahaan berbentuk konsorsium, PRPP mensyaratkan keterlibatan minimal satu perusahaan nasional.
Pengiriman dokumen prakualifikasi dibuka oleh PPRP pada 6—26 Mei 2026 hingga pukul 14.00 WIB melalui pos-el (e-mail) resmi panitia tender. Selanjutnya, pengarahan prakualifikasi dijadwalkan berlangsung pada 13 Mei 2026.
Nilai proyek GRR Tuban diprediksi mencapai US$24 miliar atau sekitar Rp391,9 triliun dan dirancang untuk memiliki kapasitas olahan minyak mentah 300.000 barel per hari (bph).
Pertamina lewat anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), memegang 55% saham PRPP, sedangkan 45% saham lainnya dikuasai Rosneft Singapore Pte Ltd (dahulu Petrol Complex Pte Ltd).
(azr/wdh)





























