Sebaliknya, hanya baht Thailand menguat 0,15% dan dolar Hong Kong 0,01%.
Melemahnya mata uang kawasan terimbas dari ketidaksepakatan antara AS dan Iran dalam penyelesaian konflik Timur Tengah. Pernyataan Presiden Donald Trump di sosial medianya memicu kekhawatiran pasar bahwa AS akan kembali melanjutkan serangan terhadap Iran.
Dari domestik, sejumlah data ekonomi belum mampu menopang laju rupiah. Ketidakpastian arah kebijakan terkait pengenaan royalti terhadap hasil tambang, ditambah belum jelasnya arah penambahan pendapatan negara di tengah belanja yang nilainya jumbo membuat pasar khawatir dengan kondisi fiskal.
Selain itu, vonis dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan hari ini menambah beban pagi pergerakan aset berdenominasi rupiah. Pasar akan mencermati pengumuman dari MSCI terkait potensi penurunan bobot Indoneia dalam indeks global tersebut.
Tekanan terhadap rupiah hari ini menunjukkan bahwa pasar sepertinya tak cuma bereaksi terhadap faktor eksternal seperti perang dan lonjakan harga minyak. Lebih dari itu, pasar mulai mencermati dan menimbang kualitas fundamental domestik.
Meski pertumbuhan kuartal I-2026 tercatat 5,61% melampaui ekspektasi ekonom, tetapi transmisi yang minim ke sektor riil menjadi catatan bagi para investor.
(dsp/aji)




























