Logo Bloomberg Technoz

Spekulasi tersebut, lanjut Nafan, memicu kekhawatiran akan terjadinya aliran modal keluar asing yang signifikan.

Sentimen lainnya yakni, adanya ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran, di mana pada 11 Mei kemarin, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi baru terhadap 12 entitas dan individu yang dituduh memfasilitasi perdagangan minyak ilegal Iran ke China.

Sementara itu, Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda mengatakan bahwa IHSG masih menguji area support penting di kisaran 6.850 hingga 6.960.

Selama level tersebut bertahan, peluang rebound masih terbuka. Namun, jika level tersebut bisa ditembus, maka risiko pelemahan lanjutan akan meningkat. 

“Pasar juga menantikan data retail sales Indonesia, inflasi AS, serta rebalancing MSCI,” kata Reza.

Adapun yang menjadi sentimen positif pergerakan indeks hari ini antara lain, penguatan sektor teknologi dan optimisme terhadap kinerja emiten AI di AS yang memberikan sentimen risk-off bagi pasar ekuitas global, termasuk ke bursa emerging markets.

Tak hanya itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tetap berada di atas level 100, dan pertumbuhan penjualan mobil secara tahunan, serta penundaan rencana kenaikan royalti minerba, juga memberikan bantalan positif bagi pasar.

Net Sell

Pada perdagangan saham kemarin, Senin 11 Mei 2026, IHSG ditutup di zona merah usai kehilangan 63,78 poin (0,92%) di posisi 6.905.

Saat itu, investor asing gencar melangsungkan jual bersih (net sell) Rp751,15 miliar pada perdagangan saham seluruh pasar. Sama halnya, pada pasar reguler investor asing net sell Rp659,16 miliar.

Adapun investor asing net sell terbesar pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencapai Rp334,7 miliar. Imbas tekanan jual yang masif, saham BMRI melemah 8,21% di posisi Rp4.250/saham.

Pelemahan IHSG kemarin turut disebabkan oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditutup melemah 0,22% di level Rp17.412/US$ di pasar spot, berdasarkan data Bloomberg, turut jadi pemberat.

(cpa/naw)

No more pages