"Kesepakatan damai yang komprehensif tampaknya sulit terwujud," tulis analis Bloomberg Economics, termasuk Dina Esfandiary dan Becca Wasser, dalam catatan mereka. "Kami memperkirakan AS dan Iran kemungkinan besar akan kembali melakukan aksi serangan. Namun, kami memprediksi baku tembak intensitas tinggi hanya akan bersifat sementara dan akan mereda ke tingkat pertempuran yang lebih rendah—yang kami sebut sebagai 'normal baru' dalam konflik berkepanjangan ini."
Laporan Axios menyebutkan bahwa Trump tengah bertemu dengan tim keamanan nasionalnya untuk membahas langkah militer selanjutnya. Selain itu, dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengisyaratkan akan menghidupkan kembali rencana pengawalan kapal komersial melewati Selat Hormuz.
Isu perang ini diprediksi akan menjadi topik utama saat Trump bertemu Presiden Xi Jinping pekan ini. Pejabat AS menyatakan bahwa Trump akan mendesak pendekatan China terhadap Iran. Pada Senin, Departemen Keuangan AS kembali menjatuhkan sanksi kepada lebih banyak entitas yang membantu penjualan minyak Iran ke China, yang merupakan pembeli minyak mentah terbesar Teheran.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengungkapkan dampak mengerikan dari blokade ini. Ia menyebut pasar global kehilangan pasokan sebesar 100 juta barel setiap minggu selama Selat Hormuz ditutup. Meski Aramco telah mengalihkan sebagian ekspor melalui pelabuhan barat, harga tetap melambung tinggi, dan para pembeli—termasuk China—mulai mengurangi volume pembelian.
Di AS, lonjakan harga BBM di pompa bensin meningkatkan tekanan politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang. Sebagai langkah darurat, pemerintah AS telah merilis cadangan minyak darurat gelombang berikutnya untuk meredam kenaikan harga.
Harga:
- WTI untuk pengiriman Juni relatif stabil di level US$98,11 per barel pada pukul 06.42 waktu Singapura.
- Brent untuk pengiriman Juli ditutup naik 2,9% menjadi US$104,21 per barel pada Senin.
(bbn)




























