Logo Bloomberg Technoz

Boivin mengatakan pembangunan pusat data AI membantu mengimbangi dampak negatif terhadap pertumbuhan akibat gangguan pasokan minyak.

Perhatian investor kini tertuju pada laporan CPI pada Selasa pagi untuk mengukur dampak perang terhadap inflasi.

Survei yang dilakukan oleh 22V Research LLC menunjukkan investor memperkirakan inflasi yang lebih panas dan sebagian besar menilai Federal Reserve seharusnya menaikkan suku bunga untuk menahan kenaikan harga.

Untuk saat ini, para strategis tetap optimistis terhadap pasar.

Meskipun konflik Iran berlarut-larut, kuatnya kejutan positif laba kuartal pertama kini mendorong beberapa strategis Wall Street menaikkan target akhir tahun mereka untuk S&P 500.

CFRA menaikkan target menjadi 7.730 poin dari 7.400 poin karena belanja konsumen yang tetap tangguh dan investasi terkait AI.

Yardeni Research Inc. kini memiliki estimasi tertinggi di Wall Street di antara para strategis yang dipantau Bloomberg. Perusahaan tersebut memperkirakan indeks acuan AS akan mengakhiri tahun di level 8.250, naik dari 7.700 poin.

“Kami belum pernah melihat ekspektasi laba konsensus naik secepat ini untuk tahun berjalan maupun tahun-tahun mendatang seperti beberapa bulan terakhir. Hasilnya adalah lonjakan pasar saham yang dipimpin oleh pertumbuhan laba,” tulis Ed Yardeni, presiden sekaligus kepala strategis investasi Yardeni Research, dalam catatannya pada Minggu.

Peforma kinerja indeks bursa saham AS. (Bloomberg)

Pendiri Vital Knowledge, Adam Crisafulli, mengatakan kenaikan terbaru saham AI dan semikonduktor menyerupai fase “melt-up” pada tahun 1999.

Namun, sebagian pihak lain melihat adanya bahaya dari kenaikan tajam pasar dalam beberapa minggu terakhir. Investor short-seller Michael Burry mengatakan pasar telah “melewati batas” dalam unggahan daringnya pada pagi hari.

Sebagian pelaku Wall Street juga khawatir bahwa tingginya harga minyak dan ketakutan akan potensi kekurangan pasokan dapat menggagalkan reli pasar.

Morgan Stanley memperingatkan pada Senin bahwa pasar minyak sedang berada dalam “perlombaan melawan waktu” dan harga bisa melonjak tajam jika Selat Hormuz tetap ditutup hingga Juni.

“Kekhawatiran terbesar adalah selama ini kita memiliki bantalan dari harga energi dan ada perdebatan soal kapan itu akan berakhir. Kapan kita mulai kehabisan cadangan dan kapan ini benar-benar menjadi masalah,” kata Sarah Hunt, kepala strategis pasar Alpine Saxon Woods, dalam wawancara dengan Bloomberg Television.

Trader juga mencerna data penjualan rumah bekas April yang mengecewakan. Data penting lain minggu ini meliputi harga produsen pada Rabu serta harga impor dan penjualan ritel pada Kamis.

Pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping yang diperkirakan berlangsung akhir pekan ini di Beijing juga berpotensi menggerakkan pasar.

(bbn)

No more pages