Logo Bloomberg Technoz

“Transaksi ini menandai tonggak penting bagi Harbour di Indonesia dan mendukung strategi kami untuk memfokuskan modal serta sumber daya pada peluang-peluang yang paling kompetitif dan material,” kata Managing Director Unit Bisnis Indonesia Harbour Energy Steve Cox lewat keterangan resmi.

Proyek yang berdekatan dengan Vietnam itu telah mendapat persetujuan rencana pengembangan atau plan of developement (PoD) sejak Desember 2022.

Ladang gas itu dikerjakan kongsi Zarubezhneft lewat anak usahanya ZAL bersama dengan entitas Harbour Energy di Indonesia, Premier Oil Tuna B.V.

Sebelumnya, dua perusahaan itu masing-masing memegang 50% hak partisipasi atau participating interest (PI), dengan Premier Oil sebagai operator blok.

Hanya saja, konsorsium Premier Oil dan Zarubezhneft Asia tidak kunjung meneken keputusan investasi akhir.Alasannya, terdapat sanksi yang dikenakan kepada Zarubezhneft akibat invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022.

Blok Tuna diestimasikan memiliki potensi gas di kisaran 100—150 million standard cubic feet per day (MMSCFD), menurut data Kementerian ESDM. Adapun, investasi pengembangan lapangan hingga tahap operasional ditaksir mencapai US$3,07 miliar.

Sekadar informasi, Prime Group merupakan perusahaan yang bergerak di sektor minyak dan gas terintegrasi di Indonesia, meliputi kegiatan pengembangan serta produksi migas di wilayah Indonesia.

Mengutip laman resminya, Prime Group sepenuhnya dimiliki oleh Tony Antonius, taipan migas yang merintis bisnisnya dari sisi hilir.

Sementara itu, Tony lewat Prime Group memiliki 25% PI South Natuna Sea Block B, Kepulauan Riau.

Prime Group juga tercatat mengoperasikan sejumlah infrastruktur migas, antara lain;  fasilitas pengolahan gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) terapung Belanak LNG, floating production storage and offloading (FPSO) Belanak-LPG-Concord.

Lalu, platform lepas pantai Belanak Wellhead Platform (WHP), platform lepas pantai Belanak WHP-B, dan North Belut Central Processing Plant (CPP).

(azr/wdh)

No more pages