Logo Bloomberg Technoz

“Setiap pengerahan dan penempatan kapal perusak dari luar kawasan di sekitar Selat Hormuz, dengan dalih ‘melindungi pelayaran’, tidak lain merupakan eskalasi krisis, militerisasi jalur perairan vital, dan upaya menutupi akar sebenarnya dari ketidakamanan di kawasan,” tulis Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi di platform X.

Ia menegaskan bahwa tanggapan Iran akan bersifat "tegas dan segera."

Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz—jalur bagi seperlima aliran minyak dan gas alam cair dunia—setelah perang pecah akibat serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, AS memberlakukan blokade laut. Gangguan ini telah mengacaukan pasar minyak dan gas, memicu lonjakan harga bahan bakar, dan menekan konsumen di seluruh dunia.

Inggris akan mengerahkan salah satu kapal perangnya, HMS Dragon—yang memiliki kemampuan menghancurkan rudal kendali—sebagai bagian dari misi ini. Namun, operasi tersebut hanya akan dimulai setelah gencatan senjata berkelanjutan atau kesepakatan damai disetujui.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengkritik Inggris dan negara-negara NATO lainnya atas keengganan mereka mengerahkan kekuatan angkatan laut untuk membantu membuka Selat Hormuz. Ia juga mengecam Inggris karena baru menawarkan pengiriman kapal induk jauh lebih lambat dari waktu yang dibutuhkan AS, bahkan sempat mengejek kapal-kapal tersebut sebagai "mainan".

(bbn)

No more pages