Dr Tan mengingatkan orang tua perlu mulai mengevaluasi pola makan anak sejak usia dini, termasuk saat anak mulai mengenal makanan pendamping.
Dia menyoroti tingginya konsumsi makanan ultraproses atau ultra processed food (UPF), penggunaan bumbu botolan tinggi garam, hingga kurangnya kebiasaan minum air putih pada anak.
“Cek asupan anak sejak mulai belajar makan di usia dini. Orang tua kenalkan UPF? Bumbu-bumbu botolan tinggi garam saat masak yang tidak disadari? Tidak ada kebiasaan minum air?” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, mengungkapkan hasil sementara program CKG menunjukkan tiga masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan pada anak usia sekolah, yakni hipertensi, gigi berlubang, dan penumpukan kotoran telinga.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 1 Januari hingga 3 Mei 2026, sebanyak 4,8 juta anak dari 48.000 sekolah telah menjalani skrining kesehatan melalui program CKG.
Dari jumlah tersebut, sekitar 22,1% atau sebanyak 663.000 anak mengalami peningkatan tekanan darah.
“Sebanyak 22,1% atau 663.000 anak mengalami peningkatan tekanan darah,” kata Qodari dalam konferensi pers di kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Temuan itu menambah kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko penyakit tidak menular pada usia muda.
Sejumlah ahli menilai edukasi pola makan sehat, aktivitas fisik, serta pengurangan konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak perlu diperkuat untuk mencegah lonjakan kasus hipertensi pada anak.
(dec/wdh)




























